Akhir-akhir ini aku sedang banyak belajar tentang paham-paham yang saling kontra satu dengan yang lain. Belajar bukan dalam arti mencari tau sejarah paham tersebut atau siapa aja pengikut paham tersebut tapi belajar bagaimana cara hidup paham-paham tersebut. Ada dua paham yang amat sangat menarik minat Lissa, yaitu paham idealisme dan realisme.
Menurut KBBI, idealisme adalah aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai
satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami. Penganut paham idealisme atau para idealis dianggap adalah orang-orang yang hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna dengan anggapan lain mereka hanya hidup sesuai literatur, peraturan, hukum, atau undang-undang yang benar menurut mereka.
Sedangkan realisme adalah paham yang mengajarkan sekumpulan orang yang dalam tindakan, cara berpikir, dan sebagainya selalu berpegang atau berdasarkan pernyataan; dengan kata lain mereka hidup dengan cara mengondisikan dirinya pada situasi yang saat itu sedang benar-benar terjadi.
Secara konseptual, dua paham tersebut sangatlah bertolak-belakang. Meskipun keduanya memiliki kelebihan, tetapi ada juga kelemahan dari kedua paham tersebut yang akhirnya menimbulkan pertanyaan dalam pikiran Lissa, "Lalu, paham mana yang baik untuk kita anut dalam hidup kita?"
Entah ini adalah sebuah korelasi yang benar atau salah, tetapi ketika aku belajar tentang paham-paham ini, aku teringat dengan sebuah pepatah "Ora et Labora", berdoa dan berusaha. Pepatah yang kita tau sejak lama tapi jarang sekali orang yang bisa melakukan kedua hal ini dengan seimbang. Pada akhirnya aku mengasumsikan bahwa kita gak bisa hidup hanya dengan paham idealisme atau hidup hanya dengan paham realisme. Kita harus menjadi idealis-realis.
Btw, postingan ini bikin aku agak takut saat lagi nulis karena ini bersangkutan tentang paham yang mendunia. So, sebelum aku lanjut bahasannya, kalo ada pembaca yang gak setuju tentang konsep paham yang aku bahas atau gak setuju dengan korelasi paham dengan sisi rohani yang akan aku bahas, mohon dimaafkan ya.. Postingan ini bener-bener sepenuhnya curahan hati Lissa kok, bukan bermaksud untuk menjelekkan paham manapun. Selamat melanjutkan membaca! :)
Menjadi idealis-realis maksudnya adalah kita hidup menurut patokan yang sempurna tapi kita juga harus berani mengondisikan diri kita dengan keadaan yang saat ini sedang terjadi dalam kehidupan kita. Secara sederhana, kita sebagai seorang kristen memang harus hidup sesuai tuntunan Alkitab, tapi jangan lupa bahwa kehidupan kita bukan hanya sekedar permasalahan rohani, ada sebuah tindakan yang harus kita lakukan untuk mencapai hasil iman kita.
Hanya menjadi idealis maksudnya adalah kita hanya hidup dengan mengandalkan hal-hal rohani tanpa ada perbuatan yang kita lakukan. Apakah itu baik? Yuk, kembali ke Alkitab dan lihat ayat di atas. Menurut teman-teman gimana?
Ketika aku melihat seseorang yang selalu menangis saat berdoa dan terus-menerus meminta sama Tuhan tapi gak ada tindakan yang dia lakukan, aku melihat ada sebuah posisi yang salah dimana kita yang seharusnya jadi seorang hamba malah dengan semena-mena nyuruh-nyuruh Tuhan untuk ngabulin semua doa-doa kita. Hey! Tuhan ya Tuhan, bagian kita adalah hamba. Kalo kita minta dan Tuhan belum memberikan atau bahkan tidak memberikan, itu adalah hak prerogatif Tuhan sebagai seorang Raja, tetapi saat Tuhan meminta kita melakukan sesuatu, itu adalah sebuah kewajiban bagi kita.
Jangan hanya meminta!
Cari tau dan dengar apa yang Tuhan ingin kau kerjakan dalam hidupmu!
Cari tau dan dengar apa yang Tuhan ingin kau kerjakan dalam hidupmu!
Selanjutnya, hanya menjadi realis maksudnya adalah kita hanya hidup dengan mengandalkan apa yang sedang terjadi saat ini. Kita melakukan banyak cara untuk beradaptasi dengan keadaan kehidupan kita, entah dengan cara mengikuti tren yang ada tanpa menyaring baik-buruknya menurut Alkitab atau menghalalkan berbagai macam cara untuk meraih kesuksesan. Secara sederhana, realis yang aku maksud di sini adalah kita melakukan sesuatu menggunakan kekuatan kita sendiri bukan berjalan dalam perkenanan Tuhan. Melakukan sesuatu karena ego manusia, bukan karena maunya Tuhan.
Apakah itu baik? Yuk, kembali ke Alkitab lagi dan baca Hakim-Hakim 13-16, cerita tentang Hakim Simson. Kalo temen-temen baca di Alkitab atau searching di internet, Simson adalah orang terkuat yang pernah ada, bahkan dia sanggup mencabik-cabik seekor singa dengan tangan kosong. Kuat kan? Tetapi kelemahannya adalah semasa cerita hidupnya tidak pernah ditemukan ayat yang menceritakan dia mengambil waktu untuk berdoa. Simson tidak pernah berdoa. Sampai akhirnya ia mati hanya karena tidak dapat menahan hatinya kepada Delila (Hakim-Hakim 16:16 - 19).
Dari kedua penjelasan Lissa di atas, yang mau Lissa bagikan lewat postingan ini adalah kita gak bisa hidup hanya dengan berdoa atau hanya dengan berusaha dengan kekuatan kita sendiri. Berdoa dan berusaha harus berjalan beriringan dan dengan porsi yang seimbang. Lagi, kembali pada Ora et Labora. Kita idealis dengan apa yang Tuhan mau dalam Alkitab dan kita juga realis dalam tindakan iman kita.
Misalnya ada masalah begini, siapa sih yang gak panik kalo udah saatnya bayaran uang kuliah tapi orang tua kita belum punya uang? Kalo telat bayar bisa terancam cuti kuliah dan pastinya akan makin lama lulusnya, iya kan? Atau, siapa sih yang gak sedih kalo orang terdekat kita sakit dan kelihatannya udah gak ada harapan untuk hidup? Ketika lagi panik begini, senjata ampuh orang kristen pasti berdoa. Lalu, apakah hanya berdoa?
Aku pernah dengar kesaksian orang-orang yang bilang bahwa Tuhan ngasih mereka berkat tepat waktu di saat mereka butuh. Yes, aku juga sering ngerasain seperti itu. Masalahnya yang teman-teman harus tau adalah berkat Tuhan bukanlah sesuatu yang murahan. Tuhan gak akan pernah memberikan berkat kesehatan ke seseorang saat Tuhan tau orang tersebut akan mabuk-mabukan ketika ia sehat. Tuhan juga gak mungkin memberikan berkat ekonomi ke seseorang yang gak bisa mengelola keuangannya dengan baik (re: boros).
Aku pernah berada dalam obrolan yang pada akhirnya bikin aku jadi sebel karena jawaban si dia. Begini ceritanya.....
Di suatu sore di sebuah rumah makan di daerah Bekasi, Lissa (L) dan Dia (D) sedang bercengkrama,
L : Eh D, bukannya lo lagi nabung untuk uang kuliah ya? Hemat dikit lah..
D : Ya abis gimana dong, gue laper.. Yaudahlah ya, ntar buat uang kuliah gue berdoa lagi aja.
Hahahaha pas kemaren aku denger dia ngomong begini sih aku lebih milih diem karena takut kalo aku lanjutin, terus kita debat dan akhirnya ada pertumpahan darah. Tapi sekarang, aku kasian sama dia karena dia gak ngerti bagaimana memakai berkat dari Tuhan dengan bijaksana.
Pernah juga Lissa berada dalam suatu perbincangan yang sama nyebelinnya..
L : Lah D? Bukannya lo ada kelas sekarang? Gak masuk?
D : Kesiangan gue. Udah telat banget juga, males masuk.. Paling sebentar lagi selesai.
L : Kemaren lo doa nangis-nangis gara-gara uang kuliah, tapi lo sendiri gak belajar bener-bener buat kuliah lo. Lah kalo lo bolos mulu terus ntar IPK jeblok, gimana? Harus ngulang kelas kan? Harus UM kan? Makin nambah gak tuh biaya kuliah?
D : Yaudah sih...
Melihat ada sesuatu yang gak seimbang kah dari dua perbincangan di atas? Satu sisi dia berdoa nangis-nangis, tapi di sisi lain dia gak berjuang untuk apa yang dia inginkan. Kasihan sekali dia, kawan.
Btw, gak usah kaget liat aku nyebut "UM" di situ. Iya, Lissa anak gundar :')
Ternyata masalah seperti itu pun terjadi juga loh pada kita yang melayani. Banyak dari kita yang hanya sibuk berdoa tapi gak mau jangkau jiwa. Katanya sih, biar Tuhan sendiri yang menggerakkan hati setiap jiwa-jiwa untuk datang kepada Tuhan. Lah piye to? Kalo kayak gitu, ngapain Tuhan nyuruh kita menggembalakan domba-domba-Nya (Yohanes 21: 15-17). Tuhan nyuruh kita menjangkau jiwa gak hanya sekali loh, bahkan sampai tiga kali Tuhan suruh kita. Lah kita masih mau bilang itu tugasnya Tuhan? Aduh boboboy~
Ada juga kasus pelayanan yang akhirnya terjebak dalam rutinitas. Melayani tapi tidak merasakan hadirat Tuhan. Melakukan ini-itu yang terlihat rohani tapi bukan berdasarkan maunya Tuhan. Wah, ini sih harus hati-hati banget, jangan-jangan Tuhan gak kenal sama kita (Matius 7: 22-23).
Idealis-realis memiliki konteks yang sangat luas, tapi pada intinya adalah kita harus hidup bersekutu dengan Roh dan kebenaran dan juga memiliki tindakan iman. Kita berdoa tapi gak lupa untuk berusaha. Kita mengikuti tren yang sedang berkembang tanpa melupakan baik-buruknya tren tersebut menurut Alkitab.
Sekali lagi, entah korelasi ini benar atau salah, tapi aku melihat idealis-realis sangat dekat maknanya dengan Ora et Labora. Ada bagian yang harus kita kerjakan, ada bagian yang harus kita serahkan sama Tuhan. Berdoa dan berusaha berjalan dengan porsi yang seimbang. Berdoa meminta isi hati Tuhan dan berusaha dengan tidak mengandalkan kekuatan sendiri. Miliki hubungan yang baik dengan Bapa dan bijaksana dalam hidup.
Banyak hal yang aku pelajari melalui konsep idealis-realis, di balik benar atau salahnya aku membahas konsep paham-paham tersebut, aku hanya ingin membagikan apa yang sangat memberkati aku dan aku harap ini juga memberkati teman-teman yang membaca.
So, ayo kita kerjakan apa yang menjadi bagian kita, dan persilahkan Tuhan mengerjakan apa yang menjadi bagian Tuhan.
DO THE BEST
AND LET GOD DO THE REST
God bless you! :)