"Jangan memilih aku bila kau tak bisa setia
Kau tak mengerti aku, diriku yang pernah terluka" - Anang & Syahrini
Terus kalo gak memilih kamu, aku pilih siapa dong? Aku sih memilih bahagia.
Halo! Mungkin beberapa temen-temen yang ngefollow instagram Lissa (Id: elstania. Sekalian promosi gapapa ye? Haha) udah agak bosen ngeliat caption atau hashtag foto-foto Lissa yang isinya "Aku memilih bahagia", "lissa tetap bahagia", dan masih banyak caption serupa. Mungkin ada beberapa yang cuek dan mungkin juga beberapa ada yang bilang alay, dan kemungkinan terakhir ada yang bertanya-tanya "kenapa memilih bahagia?" "Bukannya bahagia tergantung kondisi?" "Gimana caranya memilih bahagia?" Jawabannya, karena bahagia adalah pilihan. No, bahagia tergantung kita, bukan kondisi. Berbahagialah dalam ucapan syukur.
Satu minggu yang lalu aku belajar bahwa sedih atau bahagia, diberkati atau tidak diberkati, semua adalah pilihan. Maka dari itu Lissa selalu bilang, "Aku memilih bahagia."
Banyak orang yang selama ini salah memiliki pandangan tentang kebahagiaan, menganggap bahwa bahagia atau tidaknya kita dikontrol pada kondisi sekitar kita yang pada akhirnya memengaruhi kondisi hati kita. Ada uang, bahagia. Gak ada uang, gak bahagia. Cuaca adem angin sepoi-sepoi, bahagia. Cuaca panas ekstrim atau hujan badai, gak bahagia. Masih terlalu banyak orang yang kebahagiaannya dikuasai oleh kondisi di sekitarnya, padahal sesungguhnya kita sendirilah yang menentukan mau bahagia atau enggak. Respon hati kita yang menentukan kita bahagia atau enggak. Bersyukurkah kita untuk apapun yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita, sehingga kita bahagia? Atau tetap bersungut-sungut sehingga kebahagiaan itu gak pernah mampir di hidup kita.
Ketika aku sedang belajar untuk terus memilih bahagia, Tuhan mengijinkan aku untuk 'mengerjakan soal' yang lebih sulit dari biasanya. Baru-baru ini aku dikecewakan oleh orang-yang-amat-sangat-dekat-dengan-Lissa-yang-gak-pernah-terpikir-akan-nyakitin-Lissa, dan ternyata dalam kondisi seperti ini memilih bahagia adalah sebuah keputusan yang sulit. Ketika baru dikecewakan, rasanya pilihan untuk galau adalah pilihan ternikmat dan paling tepat. Rasanya mau banget nurutin naluri si wanita lemah ini untuk nangis sambil dengerin lagu galau. But I realized, it's wasting time. Gak ada hal yang akan semakin baik ketika aku hanyut dalam kecewa dan lebih memilih dengerin lagu galau.
Seberapa banyak dari kita yang ketika dikecewakan dengan orang terdekat langsung merasa sendirian? Seakan-akan Tuhan gak ada dalam hidup kita. Padahal udah jelas Tuhan selalu hadir dalam baik atau buruknya hidupnya kita. Seberapa banyak dari kita yang ketika memikul beban berat dan memiliki masalah langsung merasa kitalah orang paling sial di dunia? Padahal dengan jelas Tuhan menawarkan kelegaan untuk setiap kita.
Ketika Lissa dikecewakan, Lissa mengalami apa yang banyak orang alami. Lissa merasa sendirian. Lissa lupa sama kasih setia Tuhan, sampai akhirnya Lissa belajar dari Nabi Elia yang Tuhan kirim ke pengasingan.
Dalam 1 Raja-Raja 17: 1-6 diceritakan bahwa Nabi Elia diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Sungai Kerit setelah ia menemui Ahab. Kerit dalam bahasa aslinya memiliki arti dipisah, diasingkan. Dilihat dari sudut pandang manusia, Sungai Kerit adalah tempat yang pas banget buat ngegalau. Tempat yang menyedihkan karena hidup sendirian dan kesepian. Tapi dilihat dari sudut pandang Tuhan, ternyata Sungai Kerit penuh dengan kelimpahan.
Kenapa begitu? Coba temen-temen lihat di ayat 4.
"Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana."
Bahkan ketika Nabi Elia sedang dalam kesendirian pun, Tuhan tetap hadir. Ketika pada saat itu Bangsa Israel mengalami kekeringan, dalam kesendiriaannya di Sungai Kerit, Nabi Elia tetap hidup karena bebas minum dari aliran sungai tersebut. Gak sampe di situ aja, dengan cara yang ajaib Tuhan ngasih makan Nabi Elia lewat burung-burung gagak yang datang membawakan roti dan daging. For your information, burung gagak adalah haram bagi Bangsa Israel, tapi Nabi Elia gak protes loh ketika Tuhan kirim burung gagak untuk bawain dia makan. Dia gak minta ganti pake burung merpati atau pake burung elang.
Belajar dari Nabi Elia, berarti kita belajar bahwa kesendirian bukanlah faktor kita tidak bahagia. Dalam kesendirian kita bisa benar-benar merasakan bahwa Tuhan hadir dalam kehidupan kita, inilah saat paling seru untuk ngabisin waktu berdua sama Tuhan, untuk manja-manjaan sama Tuhan dan untuk membuktikan bahwa kasih setia Tuhan selalu baru dan gak pernah berhenti dalam kehidupan kita. Yang pasti hal ini membahagiakan banget kan?
Lissa sadar bahwa emang gak ada alasan lagi untuk setiap manusia gak berbahagia. Bahkan sekalipun secara kasat mata kita terlihat sendirian, kita harus bahagia karena ternyata dalam kesendirian, Tuhan tetap hadir. Hanya jangan batasi kuasa Tuhan untuk menolong hari-hari kita.
So, hari ini Lissa kembali memilih bahagia.
Kamu memilih apa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar