Tampilkan postingan dengan label Be a Blessing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Be a Blessing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2016

C A B A Y ~

"Every girl needs a best friend to help her laugh when she thinks she'll never smile again" - tumblr
Banyak yang bilang anak kecil butuh teman, sedangkan orang dewasa butuh sahabat. Apa bedanya?

Teman adalah orang yang menemanimu bermain. Sahabat adalah orang yang seprinsip denganmu yang berarti sahabat memiliki makna yang lebih dalam dari seorang teman dan memberikan pengaruh yang lebih besar juga dalam hidup seseorang.

Karena semua orang pasti akan beranjak dewasa, maka semua orang pasti butuh sahabat dan hari ini Lissa mau cerita tentang sahabat-sahabat Lissa. *Yeaaaaay!*

Halo! inilah kami, Hana - Elissa - Teresa.
And we call ourselves, C A B A Y.

Punya sahabat gak berarti hidup kita bakal lurus-lurus aja, sama sekali enggak. Tapi setidaknya kita punya tempat untuk numpahin semua perasaan kita. Punya orang yang bisa kita percaya untuk sama-sama tuker pikiran tentang apa yang saat ini sedang kita alami. Dan Lissa sangat percaya sama mereka.

Kami mulai sahabatan dari tahun 2013, baru beranjak 3 tahun dan masih singkat banget untuk usia persahabatan pada umumnya. Tapi, banyak banget hal yang kami lewatin bareng-bareng yang sedikit demi sedikit mengubah kami dari alay pithecanthropus menjadi wanita yang jauh lebih bijaksana.

Kenapa nama kami C A B A Y ?
Karena cabe udah gak ngehits lagi hahahaha canda.. Banyak orang yang gak suka sama persahabatan kami, entah iri atau ngeliat kami lebay (Berasa gak be? Hahahaha) dan dari orang-orang itulah kami dapet sebutan cabe yang pada akhirnya kami memaksa diri kami untuk sadar kalo cabe atau cabay punya artian CANTIK BERSAMA YESUS. Nah, udah tau kan kepanjangannya? Jadi, jangan negatif thinking duluan sama kita, ntar dosa~

Perjalanan sahabatan yang baru seumur jagung ini juga gak mudah loh, ada aja hal yang suka bikin saling emosian. Tapi dari awal sahabatan kami ngebuat janji untuk saling terbuka dan negur secara frontal kalo kelakuan atau kondisi dari kami ada yang mulai aneh. Jadi jangan kaget kalo tiba-tiba di antara kami suka saling jambak terus ngomel, percaya deh.. itu tanda sayang

Banyak orang yang bilang bahwa persahabatan kami gak membangun. Banyak orang yang dengan sok taunya menyimpulkan kalo kami lagi ngumpul, kerjaannya cuma ngomongin cowok, atau pergi makan terus ngobrol gak jelas, karokean, terus hedon-hedon. Ada benernya sih hahahaha.. Tapi sesungguhnya, yang tau kami ya kami. Persahabatan kami adalah bagian dari hidup kami, bukan konsumsi publik. Jadi buat kami, kami gak harus melapor ke publik tentang apa yang kami bahas atau permasalahkan. Yang jelas aku bersyukur karena kami bisa saling nguatin bahkan untuk hal yang sangat privasi pun kami bisa saling percaya untuk terbuka satu sama lain.


Yap! Aku rasa semua wanita bisa bertahan tanpa pacar, tapi gak bisa bertahan tanpa sahabat. Begitupun kami. Satu hari gak ketemu, hampaaaaaaaaaa..... Ekspresi rasa sayang ke sahabat pasti beda-beda, tapi cara kami menyayangi ya saling cari satu sama lain, usahain ngumpul dan tau kabar masing-masing, dan kalo mau pulang, jambak dulu hahaha..

Seperti tadi yang aku bilang, banyak orang berasumsi kami gak saling membangun, padahal kalo menurut kami ya karena mereka bukan bagian dari kami. So, mereka gak ngerti cara kami untuk saling nguatin.

Aku bersyukur banget punya sahabat kayak Teresa sama Hana yang selalu setia setiap saat kayak Rexona. Bahkan skala kesetiaan mereka seringkali ngelebihin skala kesetiaan pacar. Teresa yang selalu bisa ditelpon kapan pun saat Lissa sedih dan Hana yang selalu siap sedia ngehibur kayak badut mampang hahaha.. Tapi di samping itu semua, aku bersyukur karena kami selalu ada waktu untuk ngabisin waktu bareng-bareng untuk ngelakuin hal yang penting sampe yang gak penting hanya untuk membuat diri kami semakin baik. Kami nangis bareng-bareng, ketawa bareng, doa bareng, dan semakin dewasa juga bareng-bareng.

So many ups and downs we passed together. Kami lewatin semua masalah bener-bener barengan, gak ada satu hal pun yang kami rahasiain antara satu dengan yang lain. Mulai dari masalah cinta, masalah keluarga sampe masalah pelayanan kami lewatin bareng-bareng. Dan ketika kami lewatin semua masalah itu bareng-bareng, kami sering banget bilang, "Untung ada lo ya, be." Entah sejak kapan kami sering ngomong begitu, tapi yang kami tau, persahabatan kami mengajarkan kami untuk bersyukur. Ketika kami ditempa masalah, setidaknya keberadaan CABAY menjadi satu alasan untuk kami tetap bersyukur untuk apa yang udah Tuhan kasih dalam hidup kami.

Aku gak pernah inget gimana awal mula kami sahabatan, yang aku inget, CABAY ketemu pertama kali pas lagi ospek dan sekarang kami udah sedeket anak kembar siam. Aku bersyukur selama kami sahabatan, kami bener-bener belajar banyak hal dari satu sama lain. Terbuka, mau ditegur dan menegur, berbagi, belajar untuk stay positif, nahan emosi, bahkan sampe belajar diet hahaha..

So, ketika saat ini kalian punya sahabat, ayo bersyukur! Mereka adalah orang-orang yang akan memberikan warna dalam hidupmu.

Dan buat kalian, para haters Cabay (Maafkan naluri keartisan kami)
Daripada kalian sibuk ngurusin kami dan bilang persahabatan kami bobrok, lebih baik kalian cari sahabat deh.. Kayaknya kalian kurang piknik :)


Ini adalah postingan Lissa yang sepenuhnya Lissa tulis karena terinsipirasi dari kedua sahabat Lissa yang lagi heboh kepedesan makan samyang. Bodoh, tapi Lissa sayang banget.

Terima kasih karena mau, telah dan akan terus menjadi bagian terbaik dari hidup Lissa.

Nb.
Inget be, kita masih punya banyak agenda.
- Juni target lulus sidang PI
- Diet wajib turun min. 3 kg
- Ke jogja sebelum 2016 berakhir dan ini cuma jadi wacana


"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." - Amsal 17:17

Sabtu, 26 Maret 2016

Idealis? Realis?

Akhir-akhir ini aku sedang banyak belajar tentang paham-paham yang saling kontra satu dengan yang lain. Belajar bukan dalam arti mencari tau sejarah paham tersebut atau siapa aja pengikut paham tersebut tapi belajar bagaimana cara hidup paham-paham tersebut. Ada dua paham yang amat sangat menarik minat Lissa, yaitu paham idealisme dan realisme.

Menurut KBBI, idealisme adalah aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami. Penganut paham idealisme atau para idealis dianggap adalah orang-orang yang hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna dengan anggapan lain mereka hanya hidup sesuai literatur, peraturan, hukum, atau undang-undang yang benar menurut mereka.

Sedangkan realisme adalah paham yang mengajarkan sekumpulan orang yang dalam tindakan, cara berpikir, dan sebagainya selalu berpegang atau berdasarkan pernyataan; dengan kata lain mereka hidup dengan cara mengondisikan dirinya pada situasi yang saat itu sedang benar-benar terjadi.

Secara konseptual, dua paham tersebut sangatlah bertolak-belakang. Meskipun keduanya memiliki kelebihan, tetapi ada juga kelemahan dari kedua paham tersebut yang akhirnya menimbulkan pertanyaan dalam pikiran Lissa, "Lalu, paham mana yang baik untuk kita anut dalam hidup kita?"

Entah ini adalah sebuah korelasi yang benar atau salah, tetapi ketika aku belajar tentang paham-paham ini, aku teringat dengan sebuah pepatah "Ora et Labora", berdoa dan berusaha. Pepatah yang kita tau sejak lama tapi jarang sekali orang yang bisa melakukan kedua hal ini dengan seimbang. Pada akhirnya aku mengasumsikan bahwa kita gak bisa hidup hanya dengan paham idealisme atau hidup hanya dengan paham realisme. Kita harus menjadi idealis-realis.

Btw, postingan ini bikin aku agak takut saat lagi nulis karena ini bersangkutan tentang paham yang mendunia. So, sebelum aku lanjut bahasannya, kalo ada pembaca yang gak setuju tentang konsep paham yang aku bahas atau gak setuju dengan korelasi paham dengan sisi rohani yang akan aku bahas, mohon dimaafkan ya.. Postingan ini bener-bener sepenuhnya curahan hati Lissa kok, bukan bermaksud untuk menjelekkan paham manapun. Selamat melanjutkan membaca! :)

Menjadi idealis-realis maksudnya adalah kita hidup menurut patokan yang sempurna tapi kita juga harus berani mengondisikan diri kita dengan keadaan yang saat ini sedang terjadi dalam kehidupan kita. Secara sederhana, kita sebagai seorang kristen memang harus hidup sesuai tuntunan Alkitab, tapi jangan lupa bahwa kehidupan kita bukan hanya sekedar permasalahan rohani, ada sebuah tindakan yang harus kita lakukan untuk mencapai hasil iman kita.
"Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" - Yakobus 2:17.
Hanya menjadi idealis maksudnya adalah kita hanya hidup dengan mengandalkan hal-hal rohani tanpa ada perbuatan yang kita lakukan. Apakah itu baik? Yuk, kembali ke Alkitab dan lihat ayat di atas. Menurut teman-teman gimana?

Ketika aku melihat seseorang yang selalu menangis saat berdoa dan terus-menerus meminta sama Tuhan tapi gak ada tindakan yang dia lakukan, aku melihat ada sebuah posisi yang salah dimana kita yang seharusnya jadi seorang hamba malah dengan semena-mena nyuruh-nyuruh Tuhan untuk ngabulin semua doa-doa kita. Hey! Tuhan ya Tuhan, bagian kita adalah hamba. Kalo kita minta dan Tuhan belum memberikan atau bahkan tidak memberikan, itu adalah hak prerogatif Tuhan sebagai seorang Raja, tetapi saat Tuhan meminta kita melakukan sesuatu, itu adalah sebuah kewajiban bagi kita.

Jangan hanya meminta!
Cari tau dan dengar apa yang Tuhan ingin kau kerjakan dalam hidupmu!

Selanjutnya, hanya menjadi realis maksudnya adalah kita hanya hidup dengan mengandalkan apa yang sedang terjadi saat ini. Kita melakukan banyak cara untuk beradaptasi dengan keadaan kehidupan kita, entah dengan cara mengikuti tren yang ada tanpa menyaring baik-buruknya menurut Alkitab atau menghalalkan berbagai macam cara untuk meraih kesuksesan. Secara sederhana, realis yang aku maksud di sini adalah kita melakukan sesuatu menggunakan kekuatan kita sendiri bukan berjalan dalam perkenanan Tuhan. Melakukan sesuatu karena ego manusia, bukan karena maunya Tuhan.

Apakah itu baik? Yuk, kembali ke Alkitab lagi dan baca Hakim-Hakim 13-16, cerita tentang Hakim Simson. Kalo temen-temen baca di Alkitab atau searching di internet, Simson adalah orang terkuat yang pernah ada, bahkan dia sanggup mencabik-cabik seekor singa dengan tangan kosong. Kuat kan? Tetapi kelemahannya adalah semasa cerita hidupnya tidak pernah ditemukan ayat yang menceritakan dia mengambil waktu untuk berdoa. Simson tidak pernah berdoa. Sampai akhirnya ia mati hanya karena tidak dapat menahan hatinya kepada Delila (Hakim-Hakim 16:16 - 19).

Dari kedua penjelasan Lissa di atas, yang mau Lissa bagikan lewat postingan ini adalah kita gak bisa hidup hanya dengan berdoa atau hanya dengan berusaha dengan kekuatan kita sendiri. Berdoa dan berusaha harus berjalan beriringan dan dengan porsi yang seimbang. Lagi, kembali pada Ora et Labora. Kita idealis dengan apa yang Tuhan mau dalam Alkitab dan kita juga realis dalam tindakan iman kita.

Misalnya ada masalah begini, siapa sih yang gak panik kalo udah saatnya bayaran uang kuliah tapi orang tua kita belum punya uang? Kalo telat bayar bisa terancam cuti kuliah dan pastinya akan makin lama lulusnya, iya kan? Atau, siapa sih yang gak sedih kalo orang terdekat kita sakit dan kelihatannya udah gak ada harapan untuk hidup? Ketika lagi panik begini, senjata ampuh orang kristen pasti berdoa. Lalu, apakah hanya berdoa?

Aku pernah dengar kesaksian orang-orang yang bilang bahwa Tuhan ngasih mereka berkat tepat waktu di saat mereka butuh. Yes, aku juga sering ngerasain seperti itu. Masalahnya yang teman-teman harus tau adalah berkat Tuhan bukanlah sesuatu yang murahan. Tuhan gak akan pernah memberikan berkat kesehatan ke seseorang saat Tuhan tau orang tersebut akan mabuk-mabukan ketika ia sehat. Tuhan juga gak mungkin memberikan berkat ekonomi ke seseorang yang gak bisa mengelola keuangannya dengan baik (re: boros).

Aku pernah berada dalam obrolan yang pada akhirnya bikin aku jadi sebel karena jawaban si dia. Begini ceritanya.....
Di suatu sore di sebuah  rumah makan di daerah Bekasi, Lissa (L) dan Dia (D) sedang bercengkrama,
L : Eh D, bukannya lo lagi nabung untuk uang kuliah ya? Hemat dikit lah..
D : Ya abis gimana dong, gue laper.. Yaudahlah ya, ntar buat uang kuliah gue berdoa lagi aja.

Hahahaha pas kemaren aku denger dia ngomong begini sih aku lebih milih diem karena takut kalo aku lanjutin, terus kita debat dan akhirnya ada pertumpahan darah. Tapi sekarang, aku kasian sama dia karena dia gak ngerti bagaimana memakai berkat dari Tuhan dengan bijaksana.

Pernah juga Lissa berada dalam suatu perbincangan yang sama nyebelinnya..
L : Lah D? Bukannya lo ada kelas sekarang? Gak masuk?
D : Kesiangan gue. Udah telat banget juga, males masuk.. Paling sebentar lagi selesai.
L : Kemaren lo doa nangis-nangis gara-gara uang kuliah, tapi lo sendiri gak belajar bener-bener buat kuliah lo. Lah kalo lo bolos mulu terus ntar IPK jeblok, gimana? Harus ngulang kelas kan? Harus UM kan? Makin nambah gak tuh biaya kuliah?
D : Yaudah sih...

Melihat ada sesuatu yang gak seimbang kah dari dua perbincangan di atas? Satu sisi dia berdoa nangis-nangis, tapi di sisi lain dia gak berjuang untuk apa yang dia inginkan. Kasihan sekali dia, kawan.

Btw, gak usah kaget liat aku nyebut "UM" di situ. Iya, Lissa anak gundar :')

Ternyata masalah seperti itu pun terjadi juga loh pada kita yang melayani. Banyak dari kita yang hanya sibuk berdoa tapi gak mau jangkau jiwa. Katanya sih, biar Tuhan sendiri yang menggerakkan hati setiap jiwa-jiwa untuk datang kepada Tuhan. Lah piye to? Kalo kayak gitu, ngapain Tuhan nyuruh kita menggembalakan domba-domba-Nya (Yohanes 21: 15-17). Tuhan nyuruh kita menjangkau jiwa gak hanya sekali loh, bahkan sampai tiga kali Tuhan suruh kita. Lah kita masih mau bilang itu tugasnya Tuhan? Aduh boboboy~

Ada juga kasus pelayanan yang akhirnya terjebak dalam rutinitas. Melayani tapi tidak merasakan hadirat Tuhan. Melakukan ini-itu yang terlihat rohani tapi bukan berdasarkan maunya Tuhan. Wah, ini sih harus hati-hati banget, jangan-jangan Tuhan gak kenal sama kita (Matius 7: 22-23).

Idealis-realis memiliki konteks yang sangat luas, tapi pada intinya adalah kita harus hidup bersekutu dengan Roh dan kebenaran dan juga memiliki tindakan iman. Kita berdoa tapi gak lupa untuk berusaha. Kita mengikuti tren yang sedang berkembang tanpa melupakan baik-buruknya tren tersebut menurut Alkitab.

Sekali lagi, entah korelasi ini benar atau salah, tapi aku melihat idealis-realis sangat dekat maknanya dengan Ora et Labora. Ada bagian yang harus kita kerjakan, ada bagian yang harus kita serahkan sama Tuhan. Berdoa dan berusaha berjalan dengan porsi yang seimbang. Berdoa meminta isi hati Tuhan dan berusaha dengan tidak mengandalkan kekuatan sendiri. Miliki hubungan yang baik dengan Bapa dan bijaksana dalam hidup.

Banyak hal yang aku pelajari melalui konsep idealis-realis, di balik benar atau salahnya aku membahas konsep paham-paham tersebut, aku hanya ingin membagikan apa yang sangat memberkati aku dan aku harap ini juga memberkati teman-teman yang membaca.

So, ayo kita kerjakan apa yang menjadi bagian kita, dan persilahkan Tuhan mengerjakan apa yang menjadi bagian Tuhan.

DO THE BEST
AND LET GOD DO THE REST

God bless you! :)

Minggu, 06 Maret 2016

AKU MEMILIH BAHAGIA

"Jangan memilih aku bila kau tak bisa setia
Kau tak mengerti aku, diriku yang pernah terluka" - Anang & Syahrini
Terus kalo gak memilih kamu, aku pilih siapa dong? Aku sih memilih bahagia.

Halo! Mungkin beberapa temen-temen yang ngefollow instagram Lissa (Id: elstania. Sekalian promosi gapapa ye? Haha) udah agak bosen ngeliat caption atau hashtag foto-foto Lissa yang isinya "Aku memilih bahagia", "lissa tetap bahagia", dan masih banyak caption serupa. Mungkin ada beberapa yang cuek dan mungkin juga beberapa ada yang bilang alay, dan kemungkinan terakhir ada yang bertanya-tanya "kenapa memilih bahagia?" "Bukannya bahagia tergantung kondisi?" "Gimana caranya memilih bahagia?" Jawabannya, karena bahagia adalah pilihan. No, bahagia tergantung kita, bukan kondisi. Berbahagialah dalam ucapan syukur.

Satu minggu yang lalu aku belajar bahwa sedih atau bahagia, diberkati atau tidak diberkati, semua adalah pilihan. Maka dari itu Lissa selalu bilang, "Aku memilih bahagia."

Banyak orang yang selama ini salah memiliki pandangan tentang kebahagiaan, menganggap bahwa bahagia atau tidaknya kita dikontrol pada kondisi sekitar kita yang pada akhirnya memengaruhi kondisi hati kita. Ada uang, bahagia. Gak ada uang, gak bahagia. Cuaca adem angin sepoi-sepoi, bahagia. Cuaca panas ekstrim atau hujan badai, gak bahagia. Masih terlalu banyak orang yang kebahagiaannya dikuasai oleh kondisi di sekitarnya, padahal sesungguhnya kita sendirilah yang menentukan mau bahagia atau enggak. Respon hati kita yang menentukan kita bahagia atau enggak. Bersyukurkah kita untuk apapun yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita, sehingga kita bahagia? Atau tetap bersungut-sungut sehingga kebahagiaan itu gak pernah mampir di hidup kita.

Ketika aku sedang belajar untuk terus memilih bahagia, Tuhan mengijinkan aku untuk 'mengerjakan soal' yang lebih sulit dari biasanya. Baru-baru ini aku dikecewakan oleh orang-yang-amat-sangat-dekat-dengan-Lissa-yang-gak-pernah-terpikir-akan-nyakitin-Lissa, dan ternyata dalam kondisi seperti ini memilih bahagia adalah sebuah keputusan yang sulit. Ketika baru dikecewakan, rasanya pilihan untuk galau adalah pilihan ternikmat dan paling tepat. Rasanya mau banget nurutin naluri si wanita lemah ini untuk nangis sambil dengerin lagu galau. But I realized, it's wasting time. Gak ada hal yang akan semakin baik ketika aku hanyut dalam kecewa dan lebih memilih dengerin lagu galau.

Seberapa banyak dari kita yang ketika dikecewakan dengan orang terdekat langsung merasa sendirian? Seakan-akan Tuhan gak ada dalam hidup kita. Padahal udah jelas Tuhan selalu hadir dalam baik atau buruknya hidupnya kita. Seberapa banyak dari kita yang ketika memikul beban berat dan memiliki masalah langsung merasa kitalah orang paling sial di dunia? Padahal dengan jelas Tuhan menawarkan kelegaan untuk setiap kita.

Ketika Lissa dikecewakan, Lissa mengalami apa yang banyak orang alami. Lissa merasa sendirian. Lissa lupa sama kasih setia Tuhan, sampai akhirnya Lissa belajar dari Nabi Elia yang Tuhan kirim ke pengasingan.

Dalam 1 Raja-Raja 17: 1-6 diceritakan bahwa Nabi Elia diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Sungai Kerit setelah ia menemui Ahab. Kerit dalam bahasa aslinya memiliki arti dipisah, diasingkan. Dilihat dari sudut pandang manusia, Sungai Kerit adalah tempat yang pas banget buat ngegalau. Tempat yang menyedihkan karena hidup sendirian dan kesepian. Tapi dilihat dari sudut pandang Tuhan, ternyata Sungai Kerit penuh dengan kelimpahan.

Kenapa begitu? Coba temen-temen lihat di ayat 4.
"Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana."
Bahkan ketika Nabi Elia sedang dalam kesendirian pun, Tuhan tetap hadir. Ketika pada saat itu Bangsa Israel mengalami kekeringan, dalam kesendiriaannya di Sungai Kerit, Nabi Elia tetap hidup karena bebas minum dari aliran sungai tersebut. Gak sampe di situ aja, dengan cara yang ajaib Tuhan ngasih makan Nabi Elia lewat burung-burung gagak yang datang membawakan roti dan daging. For your information, burung gagak adalah haram bagi Bangsa Israel, tapi Nabi Elia gak protes loh ketika Tuhan kirim burung gagak untuk bawain dia makan. Dia gak minta ganti pake burung merpati atau pake burung elang.

Belajar dari Nabi Elia, berarti kita belajar bahwa kesendirian bukanlah faktor kita tidak bahagia. Dalam kesendirian kita bisa benar-benar merasakan bahwa Tuhan hadir dalam kehidupan kita, inilah saat paling seru untuk ngabisin waktu berdua sama Tuhan, untuk manja-manjaan sama Tuhan dan untuk membuktikan bahwa kasih setia Tuhan selalu baru dan gak pernah berhenti dalam kehidupan kita. Yang pasti hal ini membahagiakan banget kan?

Lissa sadar bahwa emang gak ada alasan lagi untuk setiap manusia gak berbahagia. Bahkan sekalipun secara kasat mata kita terlihat sendirian, kita harus bahagia karena ternyata dalam kesendirian, Tuhan tetap hadir. Hanya jangan batasi kuasa Tuhan untuk menolong hari-hari kita.

So, hari ini Lissa kembali memilih bahagia.
Kamu memilih apa?

Selasa, 09 Februari 2016

I-L-O-V-E-Y-O-U

"I love you but it's not so easy to make you here with me." - Endah n Rhesa
Gue banget! Gue banget! Hahaha alay lo, Sa..
Tapi serius deh, itu lirik bener-bener menggambarkan perasaanku saat ini cie.
Oke skip!

Halo! Pasti pada terpukau ya liat judul postingan kali ini.
Pasti pada bertanya-tanya, "Lissa lagi jatuh cinta yak?"
Gak usah kepo, karena......... yak! betul sekali Lissa lagi jatuh cintaaaaaaaa hahaha..
Tapi bukan berarti postingan kali ini akan dipenuhi dengan kebaperan Lissa yah.
Aku tau aku akan dirajam kalo kelamaan pembukaan, jadi mari kita mulai cerita ini dan sebut saja si lelaki yang berbahagia ini, Anak Tuhan.

Awal kenalan sama si Anak Tuhan, sama sekali gak kepikiran akan mempercayakan hati ini buat dia. Bukan tipikal aku juga. Intinya, gak ada yang spesial di awal kenalan, bahkan tertarik pun enggak. Lama waktu berjalan, saling kenal satu sama lain, mulai nyaman dengan keberadaan masing-masing yang selalu kemana-mana barengan, akhirnya muncul benih-benih asmara dan di sini lah sesungguhnya postingan iloveyou ini akan aku mulai.

Aku dan si Anak Tuhan punya latar belakang yang jauh berbeda. Mulai dari latar belakang ekonomi, latar belakang keluarga bahkan masa lalu yang kita alami sangat kontras, kami gak nemuin sedikit pun kesamaan. Satu hal yang menjadi sandaran kesamaan kami, kami satu Tuhan. Satu pelayanan. Dan dasar hubungan yang sedang kami bangun ini selalu aku bawa menghadap Tuhan. Ini yang membuat aku pada akhirnya menjadi yakin aku bisa menitipkan hatiku di hati dia. #Cielah

Menjadi yakin? Berarti awalnya gak yakin dong?
Iya, awalnya aku gak yakin sama dia.

Memasuki usia kepala 2, pasti semua cewek akan memasuki masa "memikirkan dan mempersiapkan pasangan hidup yang terbaik" iya kan? Aku pun seperti itu, aku mau banget punya pasangan hidup layaknya pangeran tampan dan gagah berkuda putih, tetapi seperti yang tadi aku bilang, si Anak Tuhan bukan tipe aku banget. Segala latar belakang aku dan dia berbeda dan aku ngerasa kami gak sepadan.

Terlalu banyak hal-hal yang membuat aku gak yakin sama dia. Aku galau banget karena banyak hal. Tingkat ekonomi kami berbeda, fisik kami gak menyeimbangi, gaya hidupku hedon dan dia sederhana, semua kontras. Aku ngerasa terlalu mustahil kalau akhirnya aku bisa sama dia bahkan sampai menikah.

Hubungan yang didasari dengan keragu-raguan pasti gak akan berhasil, aku rasain itu. Ada hati yang sakit loh ketika di dalam hubungan ada keragu-raguan. Ragu akan bahagia kalau sama dia, ragu akan mapan di hari ke depan dan masih banyak keraguan lainnya. Tapi keraguan ini bisa hilang ketika kita sadar bahwa cinta adalah anugerah dari Tuhan. Mengasihi dan dikasihi adalah anugerah.

Ketika aku kenal si Anak Tuhan, banyak hal yang aku dan dia pelajari bersama sampai akhirnya aku sadar kalau mengasihi bahkan mencintai seseorang adalah sebuah hadiah dari Tuhan. Bahkan ketika kita mencintai seseorang, kita gak akan pernah capek terjaga untuk mendoakan dia. Mengenal sebuah ketulusan, menjadi penolong, penyemangat, moodbooster, belajar untuk meredam dan mengontrol emosi masing-masing ketika ada masalah, belajar menyatukan pendapat tanpa harus menyakiti pasangan, saling memberi dan belajar berbagi, bahkan belajar jadi pribadi yang mau ditegur dan siap menegur untuk memperbaiki kekurangan masing-masing. Saling melengkapi dan saling membutuhkan. Aku merasa ada sebuah dasar hubungan yang kuat yang sedang kami bangun, tapi ternyata masih ada keraguan yang aku rasain.

Kenapa?
Karena ada satu kata ajaib yang maknanya dalem banget. Sepadan.

"Aku sepadan gak sih sama dia? Dia sepadan gak sih buat aku?" Dua kalimat ini yang terus-terusan mengganggu aku sekalipun kami punya dasar hubungan yang kuat. Omongan bahkan cemoohan orang-orang bahkan temen deket sendiri, bahkan orang tua membuat konsep sepadan yang aku punya menjadi salah. Pernah di satu kali, temen deketku dengan polosnya ngomong, "Sa, kok lo mau sih sama dia? Sumpah, lo sama dia kayak supir sama majikan." Sakit gak? Ya sakit laaaaaah.. Ragu gak? Ya ragulah. Rasanya pengen ngejauh aja. Untungnya aku gak ngejauh sih hahaha.. tapi aku mencoba mengubah dia menjadi seseorang yang layak bersanding dengan aku dan ternyata itu menyakiti hati dia.

Konsep sepadan seringkali jadi bahasan yang sulit dalam sebuah hubungan. Gak jarang banyak hubungan berakhir karena mereka merasa gak sepadan. Beda tingkat pendidikan dibilang gak sepadan, beda tingkat ekonomi dibilang gak sepadan, beda level muka dibilang gak sepadan, beda suku dibilang gak sepadan, beda hobi juga dibilang gak sepadan, dan masih banyak lagi lah.. dan parahnya lagi, konsep sepadan seperti ini sudah turun-temurun dari orang tua kita. Iya gak?

Akhir-akhir ini aku belajar bahwa sepadan adalah ketika Allah menciptakan Hawa untuk Adam.
Maksudnya gimana, Sa?
Kenapa sih Allah menciptakan Hawa untuk Adam? Kenapa sih Allah gak ngebiarin aja Adam sama badak atau unta?
Ada hal yang mendasari kenapa Allah menciptakan Hawa sebagai pendamping Adam:
1. Allah melihat dan menyadari sekali perbedaan antara Adam dengan hewan-hewan di bumi.
Oleh karena Allah menyadari hal itu, Allah menciptakan Hawa yang merupakan sesama manusia untuk menjadi penolong Adam.
2. Allah tau betul bahwa anak manusia hanya akan lahir dari anak manusia.
Inilah alasan kenapa Tuhan menciptakan lawan jenis. Butuh penjelasan lebih lanjut? Silahkan daftar ke Bimbingan Pra Nikah di gereja masing-masing yah.
3. Adam dan Hawa sama-sama mengenal Allah.

Pada dasarnya, sepadan hanya berbicara bahwa engkau dan pasanganmu haruslah manusia hidup, berlawanan jenis dan sama-sama mengenal Allah. Inilah kesepadanan yang sebenarnya.
Terus gimana sama tingkat ekonomi, latar belakang keluarga, suku, habit, hobi dan sebagainya, Sa?
Itu semua tergantung pada mau atau enggaknya kita menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Penerimaan.
Kita siap dan mau terima kondisi pasangan kita apa adanya atau enggak.
Nah, inilah kenapa dalam pacaran pun kita butuh kesiapan, butuh komunikasi dan pemikiran yang matang dari keduanya. Jangan sampe hanya karena ada sedikit perbedaan, hubungan tiba-tiba bubar di tengah jalan. Pemikiran yang matang dan kedewasaan rohani sangat dibutuhkan dan dituntut ada dalam sebuah hubungan pacaran.

Ketika kita merasa udah punya kesiapan tentang pacaran, mengerti tentang tujuan pacaran, pahamilah juga tentang konsep kesepadanan dan penerimaan.

Saat ini, aku dan si Anak Tuhan belum membangun hubungan yang serius (re: Pacaran). Kami sama-sama lagi memupuk dasar dari sebuah hubungan. Kepercayaan, keterbukaan, kejujuran sedang kami tanam bareng-bareng. Tapi di atas itu semua, kami bawa dasar ini ke tangan Tuhan, biar Tuhan yang atur sesuai Pengkhotbah 3:11. Bagian aku dan si Anak Tuhan sekarang ya memperbaiki diri sambil terus bekerja di ladang Tuhan.

Gak usah didoain cepet jadian, cukup didoain berjodoh aja hahaha...

"Best Relationship: Talk like best friends, play like children, argue like husband and wife, and protect like brother and sister."

Minggu, 24 Januari 2016

Keep His Promise

Shalom, anak mudaaaaa..
sudah terlalu lama semenjak kemunculan Lissa di dunia per-blogger-an dan akhirnya gue kembali menulis karena lagi baper hahaha.. Yap! gue baper dan gue jomblo, gak tau mau cerita ke siapa, jadi gue cerita ke sini aja. Cuss..

Hari ini gue bersyukur banget karena gue masih bisa ke gereja dan kita tau kalo semua hal yang kita lakuin karena dan untuk Tuhan gak akan ada yang sia-sia. Waktu gue ke gereja, gue bersyukur banget karena kembali diteguhkan, dikuatkan, dan kembali semangat lagi untuk mencapai semua cita-cita gue.

Keliatannya paragraf pembuka gue holy dan agak gak-gue-banget ya? hahaha.. Tapi itu serius. Gue sadar kalo gue punya banyak banget impian dalam hidup gue. Gue mau lanjut S2 di Jerman, gue mau punya cafe, gue mau punya butik dengan brand gue sendiri, gue mau keliling dunia, dan masih terlalu banyak yang mau gue lakuin di hidup gue. Masalahnya, terkadang impian kita hanyalah akan menjadi sebuah impian karena berbagai macam faktor.

Akhir-akhir ini gue lagi memasuki masa "letih kuliah minta dinikahin aja" dan hal ini berpengaruh besar sama impian gue untuk S2 di Jerman, ditambah lagi celotehan kanan-kiri gue yang bilang, "Cewek gak usah sekolah tinggi-tinggi, toh ujungnya juga beberes rumah sama ngangon anak." dan parahnya lagi adalah gue meng-iya-kan hal tersebut. Gue kehilangan semangat dan ambisi untuk lanjut ke Jerman dan gue ngerasa gak mampu untuk lanjut S2. Sejujurnya, setelah gue kehilangan ambisi untuk ke Jerman, impian gue untuk melangkah ke bangsa-bangsa bahkan untuk keliling dunia juga sedikit demi sedikit mulai hilang. Gue kehilangan semangat untuk ngejar impian dan cita-cita gue, bahkan gue lupa sama janji-janji Tuhan yang pernah Dia kasih untuk gue.

But today, my whole life turned around..
"Cemoohan orang tidak akan menggagalkan janji Tuhan atas hidupmu." Pdp. Ergina Sisgantina Elias
Kalimat di atas yang nguatin gue sepenuhnya. Gue belajar dari Sara dan Abraham, sekalipun keadaan mereka sama sekali gak memungkinkan untuk memiliki ketururan, tapi Tuhan tetep ngasih Ishak dalam hidup mereka. Bahkan ketika Sara dan Abraham sendiri yang menertawakan janji Tuhan, Dia tetep menepati janji-Nya atas Sara dan Abraham.
"Tuhan memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan Tuhan melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya." - Kejadian 21:1
Hari ini gue kembali belajar untuk menyerahkan satu lagi aspek kehidupan gue ke dalam tangan Tuhan, yaitu impian gue. Gue belajar ketika gue punya impian atau dapet sebuah janji dari Tuhan, seharusnya gue pertama kali angkat tangan gue untuk serahin semua itu ke Tuhan, bukan duluan tanya ke temen bahkan orang tua. Seberapa pun bijaksananya orang tua atau temen kita, mereka masih bisa mengambil keputusan yang salah, tapi rancangan Tuhan udah pasti penuh damai sejahtera dan janji-Nya gak akan pernah gagal untuk memberikan kita hari depan yang penuh harapan. Yesus adalah Tuhan yang tepat sasaran dan tepat waktu. Impian, kehendak, keputusan, cita-cita yang kita serahkan ke dalam tangan-Nya gak akan pernah menjadi sekedar mimpi. Ia akan menggenapi sesuai perkenanan-Nya.

Sekali lagi gue bener-bener bersyukur punya Tuhan Yesus dalam hidup gue. Tuhan yang selalu menepati janji-Nya tanpa melihat situasi dan kondisi kita. Bahkan yang lebih amazing lagi, ketika banyak orang yang bilang janji Tuhan mustahil dalam hidup kita, terlalu banyak yang bilang mimpi kita ketinggian, atau mungkin kita sendiri yang merasa terlalu kecil untuk sebuah atau banyak impian yang besar, hal itu sama sekali gak akan pernah menggagalkan rencana dan janji Tuhan dalam hidup kita. So, selama kita masih menunggu Tuhan menggenapi janji-Nya dalam hidup kita, tetap lakukan yang terbaik dan tetap bersukacita. Kecewa, marah, sedih karena tertawaan dan cemoohan orang pasti akan tetep kita rasain, tapi jangan takut! Janji Tuhan iya dan amin untuk semua anak-anak-Nya.


"Tetapi Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau pada masa mudamu dan Aku akan meneguhkan bagimu perjanjian yang kekal." - Yehezkiel 16:60

Minggu, 14 Juni 2015

Jomblo Over Qualified

"Ah elo sih kelamaan ngejomblo.. makanya cari pacar kek biar ga ngenes-ngenes banget.."
Such a annoying to heard this.

Sejujurnya akhir-akhir ini gue lagi bete banget sama beberapa temen-temen gue yang sedikit-sedikit ngebahas tentang status jomblo. Lagi ngebahas ini tiba-tiba nyamber ngomongin jomblo, lagi ngebahas itu eh tiba-tiba nyamber lagi ngomongin jomblo. Sebenernya apa yang salah sih dari status jomblo? Kok kesannya mengerikan banget..
Gue juga prihatin kalo ngeliat temen-temen gue yang suka panik karena kejombloan mereka. Kalo mereka ngelakuin kesalahan, selalu ada embel-embel "Ya maklum, kan gue jomblo.." Seakan-akan kejombloan adalah sumber dari kesalahan mereka. Miris.

Gue tergabung dalam sebuah organisasi rohani yang punya peraturan untuk semua pengurusnya agar gak pacaran. Berlebihan? Iya, buat mereka yang gak ngerti prioritas dan gak ngerti apa tujuan pacaran yang sesungguhnya.
Terlepas dari peraturan yang mengikat gue untuk gak pacaran, gue ngerasa enjoy kok dengan status jomblo gue. Gue sama sekali gak ngerasa peraturan ini lebay atau mengikat gue, ya karena gue mengerti prioritas hidup gue dan tujuan dari pacaran.

Banyak temen gue yang nanya ke gue kenapa sih sampe sekarang gue masih ngejomblo dan suka banget nolak cowok sana-sini.. ya jawabannya karena gue belom mau nikah. Mungkin beberapa orang akan memberikan tanggapan aneh atau ngerasa gue lebay karena jawaban gue. Tapi ini serius, gue belom mau pacaran ya karena gue belom mau nikah. Karena untuk saat-saat ini pacaran bukanlah prioritas dan kebutuhan gue.
Menurut gue, usia 20 tahun ke atas bukan usia main-main lagi untuk pacaran, bukan usia dimana pacaran hanya dijadikan ajang untuk nambah-nambahin mantan. Ketika kita menginjak usia kepala 2, ini adalah usia yang cukup dewasa untuk kita mengerti goal target dari pacaran, yaitu masuk ke jenjang pernikahan.
Sayangnya, banyak anak muda yang gak mengerti tentang prioritas dan tujuan ini. Hanya bermodalkan "I Love You" besoknya bisa langsung pacaran. Terus kalo ditanya apa tujuan kalian pacaran? Jawabnya, "Ya, yang penting kita jalanin dulu aja.." Terlalu miris sih gue ngeliat yang pacaran model kayak begini. Gak punya tujuan, buang waktu..

Beberapa temen gue juga mengira gue masih jomblo karena ada peraturan yang mengikat gue, tapi gue selalu ngomong ke mereka kalau sekalipun peraturan itu dihapus, gue akan tetep gak pacaran. Kenapa? Ya, kembali ke prioritas gue. Pacaran bukan yang termasuk di dalamnya hahaha.. Ketika kita mengambil keputusan untuk pacaran, berarti kita juga harus siap untuk membagi waktu lebih banyak lagi, dan sejujurnya gue belom siap dengan hal ini. There's so many thing I wanna do in my adolescence. Yap! Banyak hal yang ingin gue lakuin di masa muda gue tanpa adanya kontrol dari orang yang ngerasa dirinya spesial dalam hidup gue, kecuali orang tua gue.. Gue masih sibuk kuliah, sibuk pelayanan di gereja dan di kampus, sibuk english course,  gue pengen banget ngambil S2 gue di Jerman dan yang pasti ini akan menyita banyak waktu gue untuk belajar, gue juga harus ngasih waktu untuk family time dan temen-temen gue yang suka ngajakin main, dan hal ini yang ngebuat gue untuk lebih baik gak pacaran dulu.

So, guys.. sebenernya jomblo bukan hal yang mengerikan kok. Jomblo bukan kutukan. Ini semua hanya tergantung gimana kita sendiri yang menikmati keadaan kita. Selagi masih jomblo, manfaatin waktu yang ada untuk memperbaiki diri dan menggali potensi yang ada dalam diri kita sebelum akhirnya kita bener-bener  bertemu sama pasangan hidup kita.
Buat yang cewek-cewek, jangan mau pacaran kalo si cowok gak tau apa tujuan kalian pacaran. Ibarat lagu, ketika kita komitmen untuk pacaran, kita juga harus tau mau dibawa kemana hubungan kita. Gak mau kan kita pacaran tapi siklusnya kayak circular flow? Masuk fase jatuh cinta - pedekate - pacaran - berantem - putus - move on - jatuh cinta lagi - pedekate lagi dan seterusnyaaaaaaaaa.. Capek keleus~
Buat kalian hai cowok-cowok, please jangan hanya karena kalian punya tampang ganteng dan bermodalkan mulut manis terus kalian bisa nyatain cinta ke cewek manapun.. Cowok berpendidikan gak akan pernah ngelakuin hal paling bodoh kayak gitu. Daripada sibuk ngejar cewek, lebih baik sibuk ngejar cita-cita kalian.

Just remember guys, Tuhan itu adil. Ketika kita yang di masa muda kita berjuang mati-matian untuk memperbaiki masa depan kita, Tuhan juga pasti akan ngasih kita pasangan yang terbaik untuk mendampingi kita. Gue adalah orang yang amat-sangat menolak statement "Sebrengsek-brengseknya cowok, dia pasti menginginkan cewek yang baik untuk menjadi istrinya." Laaaaaah.. enak di lakinya doang dong. Hanya orang baik yang pantas dan akan bersanding dengan orang baik.

So, gak usah panik ketika kita jomblo.. Karena status "jomblo over qualified" jauh lebih baik daripada "cantik atau ganteng tapi mur**an".

Enjoy your days, Jombs!

Kamis, 04 Juni 2015

Living In God's Favor

Halooo.. setelah sekian lama hilang dari peradaban dunia pem-blogger-an, akhirnya Lissa ngepost lagi yeaaaaaaaay... Hahaha selalu kayak gini yah tiap ngepost selain tugas, ceremonialnya rame tapi rame sendiri :')))

Sebenernya sih ini postingan untuk ngelengkapin tugas softskill, tapi kayaknya gak seru aja kalo ngepost cuma untuk dapet nilai. Aku selalu pengen lewat postingan aku di blog ini, minimal ada satu orang yang terberkati :)

Yap! Living in God's Favor, tinggal dalam kemurahan Tuhan. Kenapa aku mau ngeshare ini?
Ya karena ini yang lagi aku alami di hari-hariku hahaha..

Selama ini kita sering menganggap kemurahan Tuhan berarti Tuhan memberikan sesuatu yang "wow" di dalam hidup kita. Kita lagi gak punya uang tiba-tiba ada yang ngasih uang sekoper, dibilang kemurahan Tuhan. Kita berdoa minta motor dikasih mobil, dibilang kemurahan Tuhan. Pokoknya kalo Tuhan ngasih hal-hal yang menurut dunia keren, baru deh kita bilang kemurahan Tuhan.

So, how about our life? Bukankah kita hidup karena kemurahan Tuhan? Kita juga bisa bernapas bebas karena kemurahan Tuhan. Coba bayangin temen-temen kita yang sakit dan harus bernapas lewat tabung oksigen..... Mari bersyukur untuk kemurahan Tuhan dalam setiap hal-hal kecil dalam kehidupan kita.

Apalagi sih kemurahan Tuhan dalam hidup kita?
Keberadaan orang tua kita.
Mungkin kita menganggap orang tua kita kolot, gak ngerti perkembangan jaman, ngeselin, galak, cerewet dan segala macam hal yang membuat mereka tampak kejam di mata kita.
Mungkin karena semua hal ini kita lebih suka ada di luar rumah, lebih suka main sama temen-temen kita, atau mungkin ngerasa gak pengen pulang, pengen pergi dari rumah, atau bahkan pengen kuliah yang jauh biar bisa ngekos.
Tapi pepatah "Kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang masa" itu bener, guys.. Mau kita pergi sejauh apapun ngelupain orang tua kita, kasih sayang mereka untuk kita gak akan pernah berubah.
Gak percaya? Oke, let me tell the story.

Ini kisah nyata yang bener-bener aku alami sendiri.
2 Juni 2015 aku ngadain acara pembubaran panitia makrab rohkris angkatan 2013, di acara ini kita punya kegiatan untuk ngasih makan dan ngedoain anak-anak jalanan, pemulung, atau tukang sapu di area sekitar Kota Tua. Kita dibagi menjadi beberapa tim, dan diharuskan memberi nasi kotak ke 10 orang yang berkondisi seperti tadi yang disebutkan.
Awalnya, gampang banget nyari orang yang bener-bener butuh makanan ini. Nasi kotak yang pertama sampai yang ketujuh habis dibagiin dalam waktu kira-kira 30 menit. Btw, kita cuma punya waktu 1 jam untuk bagiin makanan dan ngedoain mereka.
Di 30 menit yang tersisa kita cuma bisa bagiin nasi kotak yang kedelapan dan yang kesembilan. Karena waktunya udah mau abis, kita memutuskan untuk kumpul lagi sama panitia yang lain.
Nah, di sini nih bagian yang seru *Jeng! Jeng! Jeng!*
Waktu kita mau balik ngumpul lagi sama panitia yang lain, tiba-tiba kita ketemu seorang ibu yang cantik pada usianya (Menurut aku sih cantik) lagi ngorek-ngorek sampah. Pemulung.
Langsung lah ya kita serbu dia.. Ngobrol lumayan banyak, kita tau nama dia Ibu Hafifa (Sayang kemaren gak kepikiran untuk foto sama dia) dan dia udah bekerja lumayan lama jadi pemulung.
Nah ini sebagian obrolan aku sama Ibu Hafifa kemaren,

Lissa: Ibu tinggal di Jakarta sama siapa?
Ibu: Sendiri aja neng.
Lissa: Loh? Suami ibu?
Ibu: Gak ada neng, udah lama meninggal.
Lissa: Oh gitu.. Ibu gak punya anak?
Ibu: Ada neng, TAPI PADA GAK TAU KEMANA. UDAH SUKSES SEMUA.

Sedih gak sih? Anaknya udah sukses, tapi ibunya jadi pemulung.
Singkat cerita, kita sama-sama berdoa untuk Ibu Hafifa dan kita juga berdoa untuk anak-anaknya. Setelah selesai berdoa, kita bener-bener speechless. IBU HAFIFA NANGIS BROOOH! Kita bener-bener gak tega dan langsung meluk dia saat itu juga.
Seorang ibu yang harus berjuang bertahan hidup sendirian dengan cara yang gak layak bahkan masih mengasihi anak-anaknya walaupun anak-anaknya meninggalkan dia.

Guys, mari bersyukur dengan keberadaan orang tua kita. Baik atau buruknya mereka, mereka tetap orang tua kita. Kasih sayang mereka gak akan pernah berubah.

Tinggal di dalam kemurahan Tuhan membuat aku belajar kalo bersyukur adalah hal mutlak yang harus kita lakukan di dalam kehidupan kita. Mungkin bersyukur untuk nafas yang kita hirup sehari-hari kelihatan sepele atau gak penting, tapi pernah gak kita mikir gimana kalo tiba-tiba kita bangun dari tidur dan udah gak bernapas?
Kemurahan Tuhan gak selalu tentang berkat yang besar. Emang bener kekayaan, kepintaran, dan semua hal yang terlihat hebat adalah kemurahan Tuhan.
Tapi jangan lupa kalo hal baik sekecil apapun dalam kehidupan kita juga adalah kemurahan Tuhan.

Jadi, kalo sampe hari ini kita masih bisa hidup, Lissa masih bisa ngepost blog, temen-temen masih bisa baca postingan ini, itu semua karena kemurahan Tuhan. Bersyukur!


MAZMUR 90:17
Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami
dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami,
teguhkanlah itu.

Rabu, 18 Juni 2014

Blessed To Be Blessing

Hi, happy people! You know what?! I'm so glad I can write again on my blog, yay!
Hahaha.. agak lebay sih, tapi ini serius. Seneng banget rasanya bisa punya waktu lagi untuk ngeshare berkat lewat postingan di blog padahal tugas lagi jahat-jahatnya menjajah hari-hariku.

Yap! So many thing I've to tell. So many blessing I want to share. Saking banyaknya, gue sampe bingung mau cerita yang mana hahaha.. Tapi gays, akhir-akhir ini gue lagi bener-bener diberkati sama kehadiran orang-orang di deket gue, sama kehadiran temen-temen deket gue yang bahkan gue sama sekali gak tau gimana awalnya gue bisa deket sama mereka. Yang gue tau, ketika kita lagi bareng-bareng ataupun lagi ada di tempat yang beda, kita tetap bisa saling memberkati.

Wooo.. pada kepo ya siapa orangnya? Hahaha okey, I'll tell you.. They are Gita, Bezaleel, and Yoseph.


Duh, mereka harus bayar mahal nih gara udah gue bikin terkenal lewat postingan gue..

Yap! Here we are.. gue sama sekali gak tau dan gak ngerti gimana awalnya bisa deket banget sama mereka sampe sekarang ini, tapi justru ini yang ngebuat gue bersyukur.. because it makes me know that we are not "friends with benefits" but we become friends because we know that we need each other.

Udah 3 bulan lebih gue ngabisin waktu gue bareng mereka, mulai dari ngerjain hal-hal yang penting sampe ngelakuin hal yang paling gak penting di seluruh dunia hahaha.. Gue bersyukur banget perbedaan karakter di antara kita gak jadi penghalang untuk kita tetep deket. Gita yang super duper ambekan, Yoseph yang paling lebay dan amat-sangat kepo, Bezaleel (called him Beksal) yang super rempong jadi cowok, gue yang......... ya gitu deh! hahaha.. Ketika banyak pertemanan yang pecah karena ada perbedaan karakter dan egois yang tinggi, gue bersyukur perbedaan karakter di antara kita ini gak bisa menjauhkan kita. Kita belajar menerima kekurangan dan kelebihan yang lain, belajar mendengar dan didengar, belajar menasehati dan mau dinasehati.

So many ups and downs I passed with them. Mulai dari masalah studi, masalah keluarga, masalah finansial, sampe masalah yang nyeret-nyeret hati atau bahkan masalah yang bersangkutan sama mereka sendiri. 1 poin penting yang gue dapet selama gue ngelewatin masalah-masalah bareng mereka adalah, ketika lo punya masalah dengan seseorang, lo harus bicara jujur dengan orang yang bersangkutan. No matter how and what, no matter how his response, you have to be honest! Karena keterbukaan adalah awal pemulihan, right?

Banyak banget berkat dan hal-hal baru yang gue dapet dari mereka (and I hope they get as the same as me too) dan karena mereka juga gue tau dan gue mau ketika gue mendapat berkat, gue harus membagikan berkat itu ke sekeliling gue atau setidaknya ke temen-temen terdekat gue terlebih dahulu. Mungkin berkat yang kita kasih ke orang lain emang gak besar, atau bahkan gak keliatan seperti berkat, tapi ketika benih berkat itu terus ditabur, ketika benih yang baik itu terus ditabur, benih itu pasti akan tumbuh menjadi pohon yang baik dan menghasilkan buah yang baik juga.

So, ketika lo berada di komunitas yang baik, lo berada di tengah orang-orang yang selalu memberkati lo lewat hidupnya, lo berdiri bersama-sama orang yang bijak, lo ada bareng orang-orang yang mau saling menopang dan saling menguatkan, jangan tinggalkan mereka! Cause no matter how serious life gets, you still gotta have at least one person you can be completely blessed with. Ambil apa yang lo butuhkan dan lo harus pergi untuk memberkati orang lain lagi. You've blessed to be blessing, guys!

And for you, guys! Gita, Beksal, and Yoseph, if you read this, I just wanna tell you that I really-really-really-really-really-really happy to have all of you in my life. Thank you for complete my life. Thank you for being my second family. I pretty much only feel comfortable when you around and I absolutely love you so much! Guys, I just want you to know, maybe I can't give what all of you want, but I promise I will try to give what all of you need. I will try to give my best!
And another one, I really miss our quality time at Pancong loh hahaha :')

"BEST FRIENDS ARE THE PEOPLE IN YOUR LIFE THAT MAKE YOU LAUGH LOUDER, SMILE BRIGHTER, AND LIVE BETTER" - Anonymous.

So, this is my story! What's yours?