Selasa, 09 Februari 2016

I-L-O-V-E-Y-O-U

"I love you but it's not so easy to make you here with me." - Endah n Rhesa
Gue banget! Gue banget! Hahaha alay lo, Sa..
Tapi serius deh, itu lirik bener-bener menggambarkan perasaanku saat ini cie.
Oke skip!

Halo! Pasti pada terpukau ya liat judul postingan kali ini.
Pasti pada bertanya-tanya, "Lissa lagi jatuh cinta yak?"
Gak usah kepo, karena......... yak! betul sekali Lissa lagi jatuh cintaaaaaaaa hahaha..
Tapi bukan berarti postingan kali ini akan dipenuhi dengan kebaperan Lissa yah.
Aku tau aku akan dirajam kalo kelamaan pembukaan, jadi mari kita mulai cerita ini dan sebut saja si lelaki yang berbahagia ini, Anak Tuhan.

Awal kenalan sama si Anak Tuhan, sama sekali gak kepikiran akan mempercayakan hati ini buat dia. Bukan tipikal aku juga. Intinya, gak ada yang spesial di awal kenalan, bahkan tertarik pun enggak. Lama waktu berjalan, saling kenal satu sama lain, mulai nyaman dengan keberadaan masing-masing yang selalu kemana-mana barengan, akhirnya muncul benih-benih asmara dan di sini lah sesungguhnya postingan iloveyou ini akan aku mulai.

Aku dan si Anak Tuhan punya latar belakang yang jauh berbeda. Mulai dari latar belakang ekonomi, latar belakang keluarga bahkan masa lalu yang kita alami sangat kontras, kami gak nemuin sedikit pun kesamaan. Satu hal yang menjadi sandaran kesamaan kami, kami satu Tuhan. Satu pelayanan. Dan dasar hubungan yang sedang kami bangun ini selalu aku bawa menghadap Tuhan. Ini yang membuat aku pada akhirnya menjadi yakin aku bisa menitipkan hatiku di hati dia. #Cielah

Menjadi yakin? Berarti awalnya gak yakin dong?
Iya, awalnya aku gak yakin sama dia.

Memasuki usia kepala 2, pasti semua cewek akan memasuki masa "memikirkan dan mempersiapkan pasangan hidup yang terbaik" iya kan? Aku pun seperti itu, aku mau banget punya pasangan hidup layaknya pangeran tampan dan gagah berkuda putih, tetapi seperti yang tadi aku bilang, si Anak Tuhan bukan tipe aku banget. Segala latar belakang aku dan dia berbeda dan aku ngerasa kami gak sepadan.

Terlalu banyak hal-hal yang membuat aku gak yakin sama dia. Aku galau banget karena banyak hal. Tingkat ekonomi kami berbeda, fisik kami gak menyeimbangi, gaya hidupku hedon dan dia sederhana, semua kontras. Aku ngerasa terlalu mustahil kalau akhirnya aku bisa sama dia bahkan sampai menikah.

Hubungan yang didasari dengan keragu-raguan pasti gak akan berhasil, aku rasain itu. Ada hati yang sakit loh ketika di dalam hubungan ada keragu-raguan. Ragu akan bahagia kalau sama dia, ragu akan mapan di hari ke depan dan masih banyak keraguan lainnya. Tapi keraguan ini bisa hilang ketika kita sadar bahwa cinta adalah anugerah dari Tuhan. Mengasihi dan dikasihi adalah anugerah.

Ketika aku kenal si Anak Tuhan, banyak hal yang aku dan dia pelajari bersama sampai akhirnya aku sadar kalau mengasihi bahkan mencintai seseorang adalah sebuah hadiah dari Tuhan. Bahkan ketika kita mencintai seseorang, kita gak akan pernah capek terjaga untuk mendoakan dia. Mengenal sebuah ketulusan, menjadi penolong, penyemangat, moodbooster, belajar untuk meredam dan mengontrol emosi masing-masing ketika ada masalah, belajar menyatukan pendapat tanpa harus menyakiti pasangan, saling memberi dan belajar berbagi, bahkan belajar jadi pribadi yang mau ditegur dan siap menegur untuk memperbaiki kekurangan masing-masing. Saling melengkapi dan saling membutuhkan. Aku merasa ada sebuah dasar hubungan yang kuat yang sedang kami bangun, tapi ternyata masih ada keraguan yang aku rasain.

Kenapa?
Karena ada satu kata ajaib yang maknanya dalem banget. Sepadan.

"Aku sepadan gak sih sama dia? Dia sepadan gak sih buat aku?" Dua kalimat ini yang terus-terusan mengganggu aku sekalipun kami punya dasar hubungan yang kuat. Omongan bahkan cemoohan orang-orang bahkan temen deket sendiri, bahkan orang tua membuat konsep sepadan yang aku punya menjadi salah. Pernah di satu kali, temen deketku dengan polosnya ngomong, "Sa, kok lo mau sih sama dia? Sumpah, lo sama dia kayak supir sama majikan." Sakit gak? Ya sakit laaaaaah.. Ragu gak? Ya ragulah. Rasanya pengen ngejauh aja. Untungnya aku gak ngejauh sih hahaha.. tapi aku mencoba mengubah dia menjadi seseorang yang layak bersanding dengan aku dan ternyata itu menyakiti hati dia.

Konsep sepadan seringkali jadi bahasan yang sulit dalam sebuah hubungan. Gak jarang banyak hubungan berakhir karena mereka merasa gak sepadan. Beda tingkat pendidikan dibilang gak sepadan, beda tingkat ekonomi dibilang gak sepadan, beda level muka dibilang gak sepadan, beda suku dibilang gak sepadan, beda hobi juga dibilang gak sepadan, dan masih banyak lagi lah.. dan parahnya lagi, konsep sepadan seperti ini sudah turun-temurun dari orang tua kita. Iya gak?

Akhir-akhir ini aku belajar bahwa sepadan adalah ketika Allah menciptakan Hawa untuk Adam.
Maksudnya gimana, Sa?
Kenapa sih Allah menciptakan Hawa untuk Adam? Kenapa sih Allah gak ngebiarin aja Adam sama badak atau unta?
Ada hal yang mendasari kenapa Allah menciptakan Hawa sebagai pendamping Adam:
1. Allah melihat dan menyadari sekali perbedaan antara Adam dengan hewan-hewan di bumi.
Oleh karena Allah menyadari hal itu, Allah menciptakan Hawa yang merupakan sesama manusia untuk menjadi penolong Adam.
2. Allah tau betul bahwa anak manusia hanya akan lahir dari anak manusia.
Inilah alasan kenapa Tuhan menciptakan lawan jenis. Butuh penjelasan lebih lanjut? Silahkan daftar ke Bimbingan Pra Nikah di gereja masing-masing yah.
3. Adam dan Hawa sama-sama mengenal Allah.

Pada dasarnya, sepadan hanya berbicara bahwa engkau dan pasanganmu haruslah manusia hidup, berlawanan jenis dan sama-sama mengenal Allah. Inilah kesepadanan yang sebenarnya.
Terus gimana sama tingkat ekonomi, latar belakang keluarga, suku, habit, hobi dan sebagainya, Sa?
Itu semua tergantung pada mau atau enggaknya kita menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Penerimaan.
Kita siap dan mau terima kondisi pasangan kita apa adanya atau enggak.
Nah, inilah kenapa dalam pacaran pun kita butuh kesiapan, butuh komunikasi dan pemikiran yang matang dari keduanya. Jangan sampe hanya karena ada sedikit perbedaan, hubungan tiba-tiba bubar di tengah jalan. Pemikiran yang matang dan kedewasaan rohani sangat dibutuhkan dan dituntut ada dalam sebuah hubungan pacaran.

Ketika kita merasa udah punya kesiapan tentang pacaran, mengerti tentang tujuan pacaran, pahamilah juga tentang konsep kesepadanan dan penerimaan.

Saat ini, aku dan si Anak Tuhan belum membangun hubungan yang serius (re: Pacaran). Kami sama-sama lagi memupuk dasar dari sebuah hubungan. Kepercayaan, keterbukaan, kejujuran sedang kami tanam bareng-bareng. Tapi di atas itu semua, kami bawa dasar ini ke tangan Tuhan, biar Tuhan yang atur sesuai Pengkhotbah 3:11. Bagian aku dan si Anak Tuhan sekarang ya memperbaiki diri sambil terus bekerja di ladang Tuhan.

Gak usah didoain cepet jadian, cukup didoain berjodoh aja hahaha...

"Best Relationship: Talk like best friends, play like children, argue like husband and wife, and protect like brother and sister."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar