Selasa, 10 Juni 2014

TEORI EKONOMI BERTAHAP

Teori pertumbuhan yang dikemukakan oleh Walt Whitman Rostow merupakan garda depan dari linear stage of growth theory. Pada dekade 1950-1960, teori Rostow banyak mempengaruhi pandangan dan persepsi para ahli ekonomi mengenai strategi pembangunan yang harus dilakukan. Teori Rostow didasarkan pada pengalaman pembnagunan yang telah dialami oleh negara-negara maju terutama di Eropa. Dengan mengamati proses pembangunan di negara-negara Eropa mulai abad pertengahan hingga abad modern, maka kemudian Rostow memformulasikan pola pembangunan yang ada menjadi tahap-tahap evolusi dari suatu pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara tersebut.


Rostow mambagi proses pembangunan ekonomi suatu negara menjadi lima tahap, yaitu:

1.Perekonomian Tradisional
Perekonomian pada masa tradisional cenderung bersifat subsisten. Pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi masih sangat terbatas. Dalam perekonomian semacam ini sektor pertanian memegang peranan penting. Masih rendahnya pemanfaatan teknologi dalam proses produksi menyebabkan barang-barang yang diproduksi sebagian besar adalah komoditas pertanian dan bahan mentah lainnya. Struktur sosial kemasyarakatan dalam sistem masyarakat seperti ini bersifat berjenjang. Kemampuan penguasaan sumberdaya yang ada sangat dipengaruhi oleh hubungan darah dan keluarga.

2.Prakondisi Tinggal Landas
Tahap kedua dari proses pertumbuhsn Rostow ini pada dasarnya merupakan proses transisi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Sektor industri mulai berkembang di samping sektor pertanian yang masih memegang peranan penting dalam perekonomian. Tahap kedua ini merupakan tahap yang menentukan bagi persiapan menuju tahap-tahap pembangunan berikutnya yang menentukan, yaitu tahap tinggal landas.

Sebagai tahapan yang berfungsi mempersiapkan dan memenuhi prasyarat-prasyarat pertumbuhan swadaya, diperlukan adanya semangat baru dari masyarakat. Menurut pengalaman Rostow, negara-negara Eropa mengalami tahap kedua ini kira-kira pada abad ke-15 sampai ke-16. Pada saat itu terjadi pertumbuhan radikal dalam masyarakat Eropa dengan munculnya semangat Renaissance. Semangat ini telah membalikkan semua tata nilai masyarakat Eropa saat itu yang cenderung statis menjadi dinamis.

Pertumbuhan paradigma berpikir nampaknya merupakan istilah yang lebih tapat untuk menilai fenomena itu.

Pada tahap ini, perekonomian mulai bergerak dinamis, industri-industri bermunculan, perkembangan teknologi yang pesat, dan lembaga keuangan resmi sebagai penggerak dana masyarakat mulai bermunculan, serta terjadi investasi besar-besaran terutama pada industri manufaktur.

3.Tinggal Landas
Tinggal landas merupakan tahap yang menentukan dalam keseluruhan proses pembangunan bagi kehidupan masyarakat. Pengalaman negara-negara Eropa menunjukkan bahwa tahap ini berlaku dalam waktu yang relatif pendek yaitu kira-kira dua dasawarsa. Dalam tahap ini terjadi suatu revolusi industri yang berhubungan erat dengan revolusi metode produksi. Tinggal landas didefinisikan sebagai tiga kondisi yang saling berkaitan sebagai berikut:
a.Kenaikan laju investasi produktif antara 5-10% dari pendapatan nasional.
b.Perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur penting dengan laju pertumbuhan tinggi.
c.Hadirnya secara cepat kerangka politik, sosial, dan institusional yang menimbulkan hasrat ekspansi di sektor modern, dan dampak eksternalnya akan memberikan daya dorong pada pertumbuhan ekonomi.

4.Tahap Menuju Kedewasaan
Tahap ini ditandai dengan penerapan secara efektif teknologi modern terhadap sumberdaya yang dimiliki. Tahapan ini merupakan tahapan jangka panjang dimana produksi dilakukan secara swadaya. Tahapan ini juga ditandai dengan munculnya beberapa sektor penting baru. Pada saat negara berada pada tahap kedewasaan teknologi, terdapat tiga pertumbuhan penting yang terjadi:
a.Tenaga kerja berubah dari tidak terdidik menjadi terdidik
b.Pertumbuhan watak pengusaha dari pekerja keras dan kasar berubah menjadi manajer efisien yang halus dan sopan.
c.Masyarakat jenuh terhadap industrialisasi dan menginginkan pertumbuhan lebih jauh.

5.Tahap Konsumsi Massa Tinggi
Tahap konsumsi massa tinggi merupakan akhir dari tahapan pembangunan yang dikemukakan oleh Rostow. Pada tahap ini akan ditandai dengan terjadinya migrasi besar-besaran dari masyarakat pusat perkotaan ke pinggiran kota, akibat pembangunan pusat kota sebagai sentral bagi tempat bekerja. Penggunaan alat transportasi pribadi maupun bersifat transportasi umum seperti halnya kereta api merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan. Pada fase ini terjadi pertumbuhan orientasi dari pendekatan penawaran (Supply side) menuju ke pendekatan permintaan (demand side) dalam sistem produksi yang dianut. Sementara itu terjadi pula pergeseran perilaku ekonomi yang semula lebih banyak menitikberatkan pada sisi produksi, kini beralih ke sisi konsumsi. Orang mulai berpikir bahwa kesejahteraan bekanlah permasalahan individu, yang hanya dipecahkan dengan mengkonsumsi barang secara individu sebanyak mungkin. Namun lebih dari itu mereka memandang kesejahteraan dalam cakupan yang lebih luas yaitu kesejahteraan masyarakat bersama dalam arti luas.


Kekurangan dari Teori
1. Sering terjadi pertumbuhan ekonomi yang semu tidak seperti yang diharapkan oleh teori ekonomi ini. Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan ekonomi tertutupi oleh pertumbuhan penduduk akibat penurunan angka kematian. Akibat lanjutannya adalah sebuah Negara menjadi sulit untuk berkembang dan melalui tahap tinggal landas.

2. Dengan dasar teori ini, seringkali Negara harus melakukan mobilisasi seluruh kemampuan modal dan sumber daya alamnya sehingga mencapai tingkat investasi produktif sebesar 10% dari pendapatan nasionalnya. Efek dari teori itu adalah terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap sumber alam dan bahan-bahan mentah, tanpa mempertimbangkan kelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan di masa yang akan dating. Kerusakan alam justru berakibat pada penurunan ekonomi masyarakat tradisional, penurunan kesehatan, merebaknya penyakit, kerawanan sosial, dsb.

3. Negara yang menerapkan teori ini seringkali memperoleh sumber daya modal dari investasi langsung modal asing yang ditanamkan pada bidang pembangunan prasarana, pembukaan tambang, dan struktur produktif yang lain. Investasi ini biasanya dalam bentuk pinjaman, baik dari Negara, kreditor, maupun dari lembaga-lembaga internasional seperti bank dunia, IMF atau dari MNC (Multi Natioan Corporation). Pinjaman juga sering diberikan pada pemerintah Negara berkembang untuk mendanai proyek-proyek pembangunan. Dari pola itu terlihat terdapat ketidak seimbangan posisi karena Negara berkembang tersebut berposisi sebagai debitor, sedangkan Negara asing atau lembaga asing adalah kreditor. Negara berkembang selanjutnya sering ditekan sehingga yang tampak, pemerintah Negara berkembang tersebut tidak lebih hanyalah tangan kanan dari Negara asing atau lembaga asing yang ingin mensukseskan agenda-agenda politik maupun ekonominya di Negara yang sedang berkembang. Negara berkembang juga seringkali terjerat utang dan sulit untuk menyelesaikan persoalan utang sehingga menjadikan mereka sulit menuju kemajuan yang diharapkan.

4. Tahap tinggal landas merupakan tahap yang sangat kritis. Dalam teori yang disampaikan oleh Rostow, justru tidak memberikan penekanan pada bagaimana mengatasi problematika yang kritis dalam tahap tinggal landas. Rostow tidak memberikan pembahasan yang mendalam bagaimana cara mengatasi efek negatif dari sebuah pertumbuhan ekonomi yang dipercepat, seperti misalnya efek kesenjangan sosial, distabilitas sosial dan distabilitas politik yang seringkali justru berakibat pada kehancuran yang mendalam seperti yang misalnya terjadi di Indonesia.


Kelebihan dari Teori
1. Memberikan kejelasan tahapan-tahapan pencapaian kemajuan yang meliputi :
a) masyarakat tradisional
b) masyarakat pra kondisi tinggal landas
c) masyarakat tinggal landas
d) masyarakat kematangan pertumbuhan
e) masyarakat dengan konsumsi biaya tinggi.
Tahapan tersebut memberikan tawaran secara terperinci pada pengambil kebijakan di sebuah Negara tentang tahapah dan prasyarat dari pencapaian tahapan yang harus dilalui untuk menjadikan sebuah Negara menjadi lebih maju. Kejelasan teori yang disampaikan oleh Rostow itulah yang melatarbelakangi banyak Negara berkembang menerapkan teori ini dalam pembangunan mereka.

2. Petunjuk jelas yang disampaikan oleh Rostow tentang cara praktis dalam memperoleh sumberdaya modal untuk mencapai tingkat investasi produktif yang tinggi. Cara tersebut disajikan dalam berbagai alternatif yaitu:
a) Dana investasi dari pajak yang tinggi
b) Dana invesatasi dari pasar uang atau pasar modal
c) Melalui perdagangan internasional
d) Investasi langsung modal asing



SUMBER
http://mahmudibnumasud.blogspot.com/2011/04/kjian-teori-pertumbuhan-ekonomi.html
http://zunaidasayang.blogspot.com/2009/11/teori-rostow.html

TEORI NEOKLASIK

SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI NEOKLASIK
Ekonomi klasik, yang dikembangkan pada abad 18 dan 19, termasuk teori nilai dan distribusi teori. Nilai produk dianggap tergantung pada biaya yang terlibat dalam memproduksi produk tersebut. Penjelasan tentang biaya ekonomi klasik adalah sekaligus penjelasan tentang distribusi. Seorang tuan tanah menerima sewa, pekerja menerima upah, dan seorang petani penyewa kapitalis menerima keuntungan atas investasi mereka. Pendekatan klasik termasuk karya Adam Smith dan David Ricardo.

Namun, beberapa ekonom secara bertahap mulai menekankan nilai yang dirasakan dari suatu barang kepada konsumen. Mereka mengajukan teori bahwa nilai suatu produk adalah untuk dijelaskan dengan perbedaan utilitas (kegunaan) kepada konsumen. (Di Inggris, ekonom cenderung untuk konsep utilitas sesuai dengan Utilitarianisme dari Jeremy Bentham dan kemudian dari John Stuart Mill)

Langkah ketiga dari ekonomi politik untuk ekonomi adalah pengenalan marginalisme dan dalil bahwa para pelaku ekonomi membuat keputusan berdasarkan margin . Sebagai contoh, seseorang memutuskan untuk membeli sandwich kedua berdasarkan seberapa penuh mereka setelah yang pertama, perusahaan mempekerjakan karyawan baru berdasarkan kenaikan diharapkan dalam keuntungan karyawan akan membawa. Hal ini berbeda dengan pengambilan keputusan agregat ekonomi politik klasik dalam hal ini menjelaskan bagaimana barang vital seperti air bisa murah, sedangkan kemewahan bisa mahal. Mazhab neoklasik telah mengubah pandangan tentang ekonomi baik dalam teori maupun dalam metodologinya.

Teori nilai tidak lagi didasarkan pada nilai tenaga kerja atau biaya produksi tetapi telah beralih pada kepuasan marjinal (marginal utility). Pendekatan ini merupakan pendekatan yang baru dalam teori ekonomi. Salah satu pendiri mazhab neoklasik yaitu Gossen, dia telah memberikan sumbangan dalam pemikiran ekonomi yang kemudian disebut sebagai Hukum Gossen I dan II. Hukum Gossen I menjelaskan hubungan kuantitas barang yang dikonsumsi dan tingkat kepuasan yang diperoleh, sedangkan Hukum Gossen II, bagaimana konsumen mengalokasikan pendapatannya untuk berbagai jenis barang yang diperlukannya.


POKOK PIKIRAN TEORI NEOKLASIK
Ekonomi neoklasik adalah istilah yang digunakan untuk berbagai pendekatan untuk ekonomi berfokus pada penentuan harga, output, dan pendapatan distribusi di pasar melalui penawaran dan permintaan , sering dimediasi melalui maksimalisasi hipotesis utilitas dengan pendapatan terbatas individu dan dari keuntungan dengan biaya terbatas perusahaan yang menggunakan informasi yang tersedia dan faktor-faktor produksi, sesuai dengan teori pilihan rasional.

Ekonomi neoklasik bertumpu pada tiga asumsi, meskipun cabang-cabang tertentu dari teori neoklasik mungkin memiliki pendekatan yang berbeda:
Orang-orang memiliki preferensi rasional antara hasil yang dapat diidentifikasi dan terkait dengan nilai.
Individu memaksimalkan utilitas dan perusahaan memaksimalkan keuntungan .
Orang bertindak independen atas dasar informasi yang lengkap dan relevan.

Menurut Marx nilai komoditas sepadan dengan input - input tenaga kerja. Hanya tenaga kerja yang dapat menghasilkan laba. Namun bagi kaum Neo - Klasik, teori nilai kerja Marx tidak mampu menggambarkan secara jelas mengenai nilai suatu komoditas. Dengan pendekatan marginal, kaum Neo - Klasik mengatakan bahwa faedah suatu komoditas akan semakin menurun dengan semakin banyak terpenuhinya kebutuhan akan komoditas itu. Pencetus teori ini adalah Heindrich Gossen yang akhirnya menjadi Hukum Gossen I. Sedangkan dalam hukum Gossen II dikatakan bahwa sumber daya dan dana yang tersedia selalu terbatas secara relatif terhadap kebutuhan - kebutuhan manusia yang beraneka ragam dan hampir tak terbatas.

Teori nilai kerja Marx menerangkan bahwa nilai komoditas selalu sama dengan input labor. Namun teori marginal utility mengatakan bahwa nilai suatu komoditas - selalu dikaitkan dengan faedah (utility) - selalu berubah sejalan dengan bertambahnya kuantitas yang kita konsumsi. Bila individu meminta suatu komoditas tertentu maka utility yang diterima bertambah. Tambahan kuantitas komoditi akan menambah besar utility total yang diterima. Namun meski utility total terus meningkat, pada titik tertentu utility total akan mencapai titik jenuh dan utility marginal menjadi nol.

Inilah konsep dasar mengenai marginal utility, yang merupakan salah satu kontribusi madzab Neo - Klasik. Keadaan ini menghasilkan hukum yang disebut sebagai Law of Deminishing Marginal Utility (hukum utilitas marginal yang semakin berkurang). Hukum ini mengatakan bahwa jumlah tambahan utilitas marginal akan menurun ketika seseorang semakin banyak mengkonsumsi barang yang sama.


SUMBER
http://aryaadhy.blogspot.com/2012/06/teori-neoklasik.html
http://www.academia.edu/4169952/Teori_ekonomi_klasik_dan_neoklasik

TEORI EKONOMI KLASIK

  1.  1. Latar Belakang Munculnya Teori Ekonomi Klasik
Pemikiran-pemikiran tentang ekonomi sudah sangat berkembang pada abad ke-XV, saat terjadi revolusi pertanian di Eropa. Akan tetapi pengakuan terhadap ilmu ekonomi sebagai cabang ilmu tersendiri baru diberikan pada abad ke-XVIII, setelah Adam Smith muncul dalam percaturan ekonomi. Adam Smith (1729-1790) tidak disangsikan lagi merupakan tokoh utama aliran ekonomi yang di kenal sebagai aliran klasik.

Aliran atau mazhab yang dikembangkan Adam Smith disebut mazhab klasik sebab gagasan-gagasan yang ia tulis sebetulnya sudah banyak dibahas dan dibicarakan oleh pakar-pakar ekonomi jauh sebelumnya. Misalnya, soal paham individualisme tidak banyak berbeda dengan paham hedonisme yang dikembangkan oleh Epicurus masa Yunani kuno. Begitu juga dengan pendapatnya agar pemerintah melakukan campur tangan seminimal mungkin dalam perekonomian (Laissez faire laissez passer) sudah dibicarakan oleh Francis Quesnai sebelumnya. Karena gagasan-gagasan Smith banyak yang sudah klasik, oleh musuh bubuyutannya, Karl Marx, aliran yang dikembangkan kembali oleh Smith ini disebut sebagai mazhab klasik.

Adam Smith sebagai pendiri paham Klasik hidup pada tahap awal revolusi industri di Inggris. Pandangan-pandangannya yang optimis tentang kekayaan bangsa-bangsa tidak orisinal, tetapi dia telah berhasil mengutuhkan berbagai pandangan yang relevan dengan pembahasannya. Pembahasan teori ongkos produksi, upah, laba, dan sewa lebih utuh dan terkait dibicarakan. Di samping itu, teori pembangunannya telah memperhitungkan pertumbuhan penduduk, pembagian kerja dan akumulasi modal.

Pada generasi berikutnya pandangan-pandangan ekonomi klasik cenderung bersifat pesimis. Hal ini berkaitan dengan teori penduduk dari Malthus dan teori upah, laba, dan sewa lahan dari Ricardo. Hal ini disusul pula oleh berbagai kritik yang tajam terhadap pemikiran-pemikiran ekonomi klasik. John Stuart Mill seorang tokoh ekonomi yang hidup di ujung masa aliran klasik, pembahasan-pembahasannya versifat eklektik (eclectic). Sumbangannya yang terkenal terhadap pemikiran ekonomi antara lain adalah hukum produksi dan distribusi, dasar teori perdagangan internasional, dan mengembangkan metodologi ekonomi.


  1. 2.        Ruang Lingkup Ekonomi Klasik
  2. a.      Kemerdekaan Alamiah.
Landasan pandangan ekonomi klasik adalah kepentingan-pribadi dengan kemerdekaan alamiah. Kemerdekaan pribadi sedemikian sempurnanya, sehingga setiap orang tahu apa yang perlu, apa yang menguntungkan bagi dirinya. Pada sekitar tahun 1776, kepulauan Inggris masih dalam tahap transisi. Dunia perdagangan baik di dalam maupun keluar negeri telah berkembang, sedangkan sektor industri dan pertanian mulai menampakkan perbaikan. Dengan pandangan-pandangannya itu sebenarnya Smith menentang arus, oleh karena arus pemikiran Merkantilis masih berkembang, yang menekankan peranan negara dalam kegiatan ekonomi. Namun demikian terlihat dengan jelas kesinambungan alur pemikiran Fisiokrat dengan dasar pemikiran ekonomi klasik.

Pendekatannya, bila dibandingkan dengan pemikiran-pemikiran paham sebelumnya, lebih terpadu, konsisten, mendalam, dan bersifat lebih umum. Membicarakan kekayaan sangat penting, karena itulah subyek pengkajian ekonomi. Dia menantang pandangan kaum Merkantilis yang menyatakan bahwa kekayaan itu terdiri dari uang dan logam-logam mulia. Perdagangan internasional bukan semata-mata untuk mendapatkan logam-logam mulia tetapi untuk pertukaran komoditi yang diperlukan, memperluas pasar dan hal ini akan meningkatkan pembagian kerja.

  1. b.      Pemikiran yang pesimistik
Revolusi industri pada abad ke 19 di inggris, selain menjadikan negara tersebut menjadi negara industri yang maju juga mendatangkan hal yang kurang menyenangkan seperti kemiskinan, pengangguran, tenaga kerja anak-anak dan tekanan-tekanan baru dalam kehidupan, baik di kota maupun pedesaan. Dalam keadaan demikian, Thomas Robert Malthus (1766-1834), membahas tentang jumlah penduduk yang bertambah lebih cepat dari pada pertumbuhan bahan makanan. Bukunya yang berjudul An Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society, terbit pada tahun 1798. Malthus menolak pandangan William Godwin dan Condorcet dan pandangan-pandangan yang optimistik pada abad ke 18.

Selanjutnya Ricardo (1783-1823) datang juga dengan teori distribusi. Yang lebih tajam yang mengandung pertentangan antara tuan-lahan, pemilik modal dan tenaga kerja. Selain itu sewa lahan akan meningkat karena lahan-lahan subur semakin langka. Ricardo mengembangkan lebih lanjut teori nialai kerja dan memberi penjelasan lain tentang perdagangan internasional bila dibandingkan dengan pandangan kaum Merkantilisme.

John Stuart Mill (1806-1873), salah satu intelektual, filsuf, pemikir ekonomi dan politik menulis buku Principles of Political Economy, With Some of Their Application to Social Philosophy. Buku ini menguasai ajaran-ajaran ekonomi tidak hanya di Inggris, tetapi juga di negeri-negeri yang menggunakan bahasa Inggris. Pemikirannya sangat dipengaruhi oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Pemikiran-pemikiran yang terdapat pada buku ini pada umumnya merupakan pengulangan berbagai teori yang telah dibicarakan oleh ahli-ahli sebelumnya, tetapi dua sumbangannya yang terkenal adalah permintaan timbal balik dalam perdagangan internasional dan membedakan hukum-hukum produksi dan distribusi. Mill menyetujui prinsip-prinsip ekonomi sosialis, sehingga ada anggapan bahwa Mill telah meninggalkan ekonomi dengan dasar individu yang merdeka. Anggapan ini sampai sekarang menjadi kontroversi. Namun demikian dalam bukunya Mill masih melanjutkan tradisi ekonomi klasik, namun pada masanyalah kritik-kritik itu memuncak bersamaan dengan munculnya pembahasan-pembahasan ekonomi sosialis yang lebih tajam.
  1. c.         Individu dan Negara
Kritik mereka yang tajam terhadap pemikiran ekonomi klasik  diajukan pada dasar pemikirannya, yakni tentang semboyan Laissez-faire. Ini berarti mereka menolak pandangan tertib-alamiah dan kemerdekaan alamiah, ataupun pemikiran ekonomi yang atomistik. Para pengriktik ini bertolak dari prinsip-prinsip bahwa peran negaralah yang lebih tama, yang lebih berorientasi kepada dasar-dasar ekonomi sosialis. Selain itu, kritik-kritik tersebut diajukan pula terhadap metodologi dan kelembagaan yang bersifat politis, sosiologis dan historis. Karl Marx pula yang memberi nama faham ekonomi yang dipelopori Adam Smith itu dengan sebutan ekonomi klasik, yakni pemikiran ekonomi yang sudah tua. Namun demikian, pemikiran-pemikiran ekonomi yang tua dan kuno itu sampai sekarang masih mempunyai tradisi yang kuat.
  1. 3.    Tokoh Aliran Ekonomi Klasik
    1. a.        Adam Smith (1729-1790)
Smith lahir di Kirkcaldy kota kecil dekat Eddinburg, Scotlandia tahun 1723. Ayahnya adalah pengacara dan pengawas keuangan bea nasabah. Ayahnya meninggal tak lama setelah Smith lahir, sehingga ia debesarkan ibunya dan dijaga orang kepercayaan ayahnya. Smith memasuki Glasgow University pada usia 14 tahun setelah meneruskan studinya di Kirkcaldy. Di Universitas ini Smith mempelajari ilmu etika hukum-alamiah dan ekonomi dari Francis Hutcheson (1694-1746). Mereka berasal dari daerah yang sama yaitu Scotlandia. Hutcheson sebagai guru besar dalam filsafat moral mengajarkan bahwa individu sendirilah yang dapat menentukan apa yang baik menurut etis bagi dirinya, tanpa memperoleh pengetahuan terlebih dulu dari Tuhan, dan kebahagiaan individu merupakan ukuran tentang kebaikan. Sebagai perintis gagasan itu, Hutcheson mendapat tuduhan subversi doktrin gereja. Dia mendapatkan hukuman dari Dewan Gereja lokal, tetapi kemudian dibebaskan dan diijinkan untuk melanjutkan ajarannya. Sewaktu itu, Smith menjadi salah seorang muridnya. Selanjutnya, Smith melanjutkan studinya ke Oxford University dengan besiswa selama 6 tahun (sampai tahun 1746).

Di sini, Smith mengenal David Hume (1711-1776) melalui kelompok intelektual Eddinburg karena ia mengajar di Eddinburg University (1748-1751). Hume adalah seorang filsuf dan ekonom yang melanjutkan ajaran John Locke, yang bersifat empirik tentang sebab dan akibat. Melalui Hume, pendekatan Smith tentang konsep hukum-alamiah berubah. Hume pula yang merangsangsangnya untuk melakukan generalisasi tentang perilaku manusia dengan mempelajari sejarah. Pada tahun 1751 hingga 1763 Smith kembali mengajar di Universitas Glasgow. Dia guru besar dalam filsafat moral menggantikan Hutcheson. Materi pengajaran yang diberikan pada setiap kuliah itulah yang menjadi sumber dua buah bukunya yang terkenal yaitu, pertama The Theory of Moral Sentiment (1759) yang banyak menghubungkan masalah ekonomi dan moral. Buku ini serta bahan-bahan kuliah yang diberikan di Universitas Glasgow menjadi sumber utama penulisan buku yang kedua, An Inquiry in to the Nature and Causes of The Wealth of Nations (1776). Buku yang ditulis oleh Smith tersebut dianggap sebagai pancangan pertama tonggak sejarah perkembangan ilmu ekonomi, oleh sebab itu ia diberi gelar “Bapak Ilmu Ekonomi”. Smith juga merupakan pendiri Glasgow Literary Society dan Political Economy Club. Pendiri lain David Hume dan James Watt dengan anggota para guru besar lainnya dan para pengusaha lokal.

1)      Sumber Pemikiran
Paham filsafat naturalis merupakan landasan pemikiran Smith. Tetapi Smith tidak mulai dari nol, rantai panjang telah merangkai landasan tersebut. Dalam aliran ini ditemukan nama-nama Stoic dan Epicturus dalam filsafat alamiah Yunani kuno. Dalam kerajaan Romawi juga tercatat nama-nama besar, seperti Cicero, Seneca dan Epictitus. Selanjutnya dalam kurun waktu Renaissance dan Reformasi aliran ini kembali mengalami modifikasi dalam karya-karya Bacon, Hobbes dan Locke. Aliran Pisiokrat mengembangkannya lebih lanjut dan pada masa Adam Smith sepenuhnya mekar dalam pemikiran ekonomi. Seperti dikatakan Eric Roll:
Its claims that all that wise social organizatin need do is to act as nearly a possible in harmony with the dictates of the natural order. … Their common characteristic, however, is the principle from which they claim authority: the superiority of natural over man-made law.”
Berbagai teori yang dibahas oleh Smith berutang budi kepada nama-nama yang telah terkenal sebelumnya. Teori tentang uang, Smith mengembangkan pendapat Hume dan Locke, bahkan uga Steurt. Karangan-karangan Petty, Steurt dan Cantillon merupakan perintissebelum Smith membicarakan teori nilai. Seperti telah diutarakan sebelumnya, teori pembagia kerja berasal dari Plato, Aristotles, dan Xenophon.bahkan contoh yang dibuat Smith tentang pembagian kerja dalam pabrik jarum telah dimuat dalam sebuah Encyclopedie yang terbit tahun 1775 di Perancis. Seorang guru besar di Universitas of Edinburgh yang bernama Adam Ferguson (1723-1816), telah menulis hal yang sama, sehingga timbul saling tuduh menuduh siapa memplagiat siapa.
Pemikiran utama yang ditulis Smith meliputi Filsafat sosial dan politik dan pemikiran ekonomi  diturunkan dari filsafat itu; kedua, hal-hal yang mengandung ekonomi teknis.

2)      Filsafat Sosial dan Politik
Masalah yang dibahas Adam smith dalam bukunya meliputi produksi, distribusi dan pertukaran yang pernah dilakukan sebelumnya pada berbagai negeri, kemudian melakukan perbaikan dengan mengintegrasikan teori-teori tersebut dalam lingkupan yang bersifat makro. Pengarang  The Wealth Of  Nations ini menyatakan bahwa pada hakekatnya perilaku manusia mempunyai enam motif. Keenam motif itu adala cinta diri sendiri (self-love), simpati, keinginan untuk merdeka, mempunyai sopan santun (sense of propriety), senang bekerja dan cenderung untuk saling menukar, barter dengan barang-barang lain. Dengan dasar dan motif ini manusia bebas mempertimbangkan dan memperoleh apa yang dia rasa patut untuk kepentingan dirinya. Mencintai diri sendiri saling berkaitan dengan motif-motif lainnya, terutama  dengan motif simpati dengan motif ini akan dicapai keseimbangan alamiah perilaku manusia, yang katanya diatur oleh invisible hand. Konsekuensi dari motif tersebut adalah campur tangan pemerintah yang terlalu jauh yang akan bersifat negatif. Tiga tugas utama pemerintah adalah: pertama, tugas pertahanan dan keamanan; kedua, menjamin tegaknya keadilan; dan ketiga, mempersiapkan public works dan hal-hal yang bersifat kelembagaan yang tidak dapat dilakukan secara individu, atau kelompok individu dan tidak cukup menguntungkan. Menjamin kedamaian dalam dan luar negeri, keadilan, pendidikan dan prasarana minimum untuk kegiatan usaha masyarakat seperti, jalan-jalan raya, pelabuhan, jembatan, kanal-kanal. Inilah tugas pemerintah, di luar itu diatur oleh tangan yang tersembunyi.

Pandangan tersebut mendapat tantangan yang kuat dari penentangnya, baik dari para ahli ekonomi maupun dari pihak pemerintah yang berkuasa pada waktu itu. Smith senantiasa menekankan bahwa kepentingan pribadi itu saling berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Oleh karena seorang individu adalah dari suatu masyarakat, yang senantiasa menolong orang lain, tetapi adalah percuma untuk selalu mengharapkan kebajikan orang lain.
Inilah pendapatnya yang tampaknya sangat angkuh:
“it’s not  from the benevolence of the buthcer, the brewer, or the baker, that we expect our dinner, but from their regard to their own interest.”

Selanjutnya, pertukaran akan mendatangkan kepuasan serentak bagi dua kepentingan individu. Setiap orang menghasilkan sesuatu yang dapat menguntungkan dirinya dan dipertukarkan dengan orang lain. Ini berarti, pembuatan barang atau jasa telah mempertimbangkan kepentingan orang lain.
Smith tidak hanya melihat sektor pertanian sebagai sektor yang produktif, tetapi mempelajari lebih luas hubungan perdagangan, industri dengan pertanian. Dengan mendorong investasi ke sektor industri akan mengembangkan sektor pertanian dan menimbulkan kegiatan pertukaran. Ini berarti memajukan perdagangan. Merupakan suatu kebijakan bagi setiap keluarga, jika membuat barang-barang yang harganya lebih murah. Sebaliknya, jika harga barang itu lebih mahal jika dibuat sendiri, maka lebih baik membeli.
Tantangan tidak kecil. Mengoperasionalkan naturalisme dalam kebijaksanaan ekonomi, harus terlebih dulu berjuang mengurangi pengaruh merkantilisme dalam perdagangan, peraturan dan retriksi dalam dunia industri dan perdagangan yang telah bercokol lama sejak seabad sebelumnya. Disamping itu, struktur monopoli yang kuat dan hak-hak istimewa dari beberapa kelompok orang-orang kaya dan bangsawan masih berkuasa. Kebijaksanaan yang sangat didominasi negara pada waktu itu (di Inggris) adalah menyangkut perdagangan luar negeri dengan kontrol yang sangat tepat, proteksi perdagangan. Demikian juga bidang yang menyangkut tenaga kerja seperti upah, latihan, dan semua aspek produksi mendapat perhatian dari Smith. Semuanya memerlukan perombakan. Smith berpendapat bahwa kelangsungan persaingan bebas perlu dijamin.inilah tugas kebijaksanaan ekonomi yang utama yang diprioritaskan. Peranan pemerintah sangat minimum. Hanya dengan persaingan yang demikian, yang konsisten dengan kemerdekaan alamiah, yang mendorong kemajuan. Setiap orang dapat memperoleh hasil dari usahanya dan memberikan sumbangan penuh untuk kepentingan bersama.
Hasil-hasil yang dicapainya luar biasa. Pemikirannya sangat berpengaruh kepada para usahawan dan politisi. Dia berbicara dengan para industrialiawan, yang memang menginginkan pasar bebas. Pandangan-pandangannya senantiasa menentang pengaturan ekonomi oleh negara dan sangat tidak setuju dengan monopoli serta hak-hak istimewa yang dimiliki oleh sekelompok orang. Ini harus ditiadakan jika ekonomi masyarakat ingin dikembangkan, sehingga kepuasan seluruh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dapat ditingkatkan.

3)        Teori Nilai
Teori nilai tidak kurang dari dua ratus tahun sebeluim buku Smith yang terkenal itu terbit, ahli-ahli ekonomi senantiasa mencari sumber akhir kekayaan suatu bangsa. Seperti telah diutarakan pada uraian aliran pemikiran ekonomi, merkantilisme mengandalkan sumber kekayaan pada perdagangan luar negeri. Sedangkan aliran fisiokrat melihatnya dari sektor pertanian dan pertukaran. Adam Smith melanjutkan pemikiran-pemikiran yang telah ada sebelumnya yakni yang telah dikemukakan oleh Petty dan Chantillon. Smith melihat bahwa tenaga kerja adalah sumber dari kebutuhan hidup. Menurut Smith, kekayaan suatu bangsa tergantung pada: Pertama, tingkat produktivitas tenaga kerja dan kedua, jumlah penggunaan tenaga kerja, yakni tenaga kerja produktif yang terpakai.

Mebicarakan hal pertama, menyangkut pembagian kerja (division of labour), pertukaran (exchange), uang dan distrisbusi. Ke dalam hal kedua, termasuk pembahasan model. Smith memulai pembahasan pembagian kerja karena hal ini menyangkut dasar terjadinya transformasi dari bentuk tenaga kerja yang konkrit dan produktif yang menghasilkan barang-barang (nilai guna) menjadikan tenaga kerja sebagai suatu unsur sosial. Secara abstrak, inilah yang menjadi sumber kekayaan (nilai tukar). Pembagian kerja adalah dasar untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Smith mungkin keliru, dengan mengatakan bahwa tidak mungkin ada pertukaran tanpa pembagian kerja. Tetapiyang dimaksud Smith adalah nahwa ada kaitan antara pasar dengan produktivitas, sedangkan perdagangan harus belangsung dengan bebas untuk pengembangan kekuatan-kekuatan prodktif. Kekuatan0kekuatan produktif inilah yang menghasilkan kekayaan bangsa. Kekayaan bangsa bagi Smith adalah bukanlah hanya emas da perak, tetapi haruslah barang dan jasa. Hal ini bergantung pada produktivitas tenaga kerja dan bagian tenaga kerja yang terpakai. Smith mempunyai andaian bahwa keadaan ekonomi senantiasa dalam keadaan full employment. Sebenarnya, dengan membicarakan hal ini, secara langsung mengingatkan kita pada kurva transformasi (sering juga disebut production possibility curve).

Selanjutnya, faktor-faktor yang menentukan  produktivitas tenaga kerja adalah pembagian kerja. Artinya, dengan spesialisasi dan pembagian kerja produktivitas dapat meningkat. Hal ini ada benarnya, tetapi di pihak lain terjadi kerugian sosial karena pekerjaan yang berulang-ulang dan menonton. Malahan manusia berperilaku sebagai mesin dalam proses produksi, kurang manusiawi, dan pekerja relatif cepat bosan dengan pekerjaannya.

Setelah diuraikan dasar teori nilai yang merupakan sumber dari kekayaan bangsa-bangsa, maka sekarang timbul pertanyaan yang menyangkut aspek teknis. Pertama, apa pengukur nialai yang terbaik; kedua, faktor-faktor apa yang menentukan bahwa suatu barang mempunyai nilai; ketiga, faktor-faktor apa yang menetukan tingkat harga umum? Secara singkat pertanyaan ini dapat dijelaskan bahwa jawaban yang pertama menyangkut cabang ilmu ekonomi tentang kesejahteraan (welfare economics), yang kedua, mengenai faktor yang menentukan harga relatif, dan yang ketiga menyangkut pembahasan ekonomi makro.

Dalam pembahasannya tentang ketiga hal itu, Smith kurang tajam membedakan, bahkan sering meragukan. Karena membicarakan welfare economics relatif subyektif, dan kadang-kadang Smithkembali kepada aliran Skolastik, maka uraian selanjutnya yang lebih terinci adalah pertanyaan yang menyangkut harga relatif. Ada tiga penjelasan yang dapat digunakan untuk menerangkan teori harga relatif.

Pertama, melalui ongkos produksi; Kedua, teori utilitas margina, dimana harga relatif ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Ekonomi klasik pada umumnya menggunakan penjelasan pertama walaupun kadang-kadang Smith menggunakan aspek permintaan. Penjelasan harga relatif melalui ongkos produksi dapat juga dari sisi penawaran. Uraian lebih lanjut adalah tingkat harga relatif yang ditentukan ongkos produksi.

Menurut Smith, harga alamiah (natural price) dalam keseimbangan jangka panjang ditentukan oleh ongkos produksi. Pembahasannya adalah sektor industri manufaktur dan pertanian. Dalamjangka pendek, baik manufaktur maupun pertanian kurva permintaanya turun sedangkan kurva penawaran nauik. Tetapi dalam jangka panjang, sektor pertanian mempunyai kurva penawaran yang juga naik karena ongkos produsi meningkat. Selanjutnya, ada sektor manufaktur, kurva penawaran jangka panjang horizontal, karena mencapai ongkos tetap (cnstante cost), sedangkan ada bagian lain adalah kurva penawaran yang menujrun, karena ongkos yang menurun. Jadi ada dua jenis kurva penawaran pada sektor manufaktur yakni, dalam jangka panjang kurva elastis sempurna dimana harga relatif tergantung ongkos produksi, kemudian kurva menurun karena harga alamiah ditentukan permintaan dan penawaran.

Terjadi ketidaktaatan dari uraian Smith, ada pendapan yang menyatakan hal ini karena penulisan The Wealth of Nation yang menggunakan waktu lama. Para ahli sependapat, pandangan Smith yang dominan adalah melihat harga alamiah ditentukan ongkos produksi jangka panjang jadi bersifat ekonomi penawaran (supply side economi).

Telah diutarakan arti nilai bagi Smith adalah nilai guna dan nilai tukar. Namun ada persoalan yang tidak diselesaikan oleh Smith dan juga para ahli ekonomi klasik yaitu Diamond Water Paradox. Nilai guna barang tinggi tetapi tidak mempunyai atau kecil nilai tukarnya. Sebaliknya, barang mempunyai nilai tukar yang tinggi tetapi tidak atau sedikit nilai gunanya. Contohnya Intan mempunyai nilai guna yang relatif langka tapi kuantitas tinggi dibanding nilai tukar barang lain. Air nilai gunanya tinggi tapi nilai tukarnya rendah.

Smith menyatakan nilai tukar adalah kekuatan suatu barang untuk membeli barang lain. Inilah harganya sebagai ukuran objektif dalam pasar.

Teori harga relatif dari Smith dapat dijelaskannya melalui: Pertama, teori ongkos tenaga kerja, Kedua, teori jumlah tenaga kerja; dan Ketiga teori ongkos produksi. Smith terlebih dahulu membedakan dua keadaan ekonomi primitif dan maju. Tahap pertama, teori pertama dan kedua sesuai. Kedua teori ini mengabaikan akumulasi modal dan nilai lahan, jadi ongkos produksi ditentukan tenaga kerja. Dalam teori ongkos tenaga kerja jika ongkos menangkap seekor berang-berang dua kali ongkos menagkap seekor menjangan, maka pertukaran di pasar, seekor berang-berang harus ditukarkan dua ekor menjangan. Contoh tadi tanpa modal, tanpa lahan dan kedua binatang itu bersifat alamiah bebas diburu. Jika si B dan Si A bekerja satu hari tujuh jam, B menghasilkan dua satuan barang, sedangkan A membuat satu-satuan barang yang sama. Andaian Cateris Paribus dapat digunakan namun terlihat keterampilan kerja, kerajinan, kerapihan dan kejujuran. Jika kualitas barang yang dihasilkan sama, berapa harga barang tersebut persatuan?

Secara singkat, jawabannya bukan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi barang tersebut, tetapi barang itu mempunyai nilai sama dengan upah yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Dalam teori ekonomi, harga alamiah tersebut dinamakan juga harga keseimbangan jangka panjang. Disamping harga keseimbangan tersebut Smith mempunyai pula harga pasar atau keseimbangan jangka pendek. Jika harga berang-berang meningkat, misalnya, maka dengan sendirinya dalam kaitan ini, harga menjangan turun. Akibatnya, para pemburu menjangan kurang bergairah, dan motivasi unntuk berburu berang-berang lebih tinggi. Tetapi ada dua cara untuk mendapatkan menjangan. Pertama, secara langsung dengan memburu menjangan; Kedua, dengan cara tidak langsung, memburu dan menangkap berang-berang, kemudian menukarkannya dengan menjangan di pasar. Dalam hal ini dengan jumlah berang-berang yang sedikit dapat memperoleh seekor menjangan. Katakanlah, bahwa seekor berang-berang dapat ditukar dengan 4 ekor menjangan. Rangsangan harga ini akan meningkatkan penawaran berang-berang di pasar, dan dapat berakibat harga berang-berang menurun, sedangkan penawaran menjangan menurun dan harganya pun dapat meningkat. Jadi, kalau semula perbandingannya 1:2 kemudian menjadi 1:4, harga menjadi tidak seimbang, tetapi kemudian mekanisme pasar mendorong harga menjangan kembali naik, maka tingkat harga cenderung kembali ke tingkat keseimbangan semula. Dari uraian itu teramati, dengan andai-andaian semual, proses perubahan harga pasar ke harga alamiah.

Andaian yang lain perlu dilengkapi adalah: pertama, pemburu benar-benar rasional dalam perhitungan yang didorong oleh self-interest. Kedua pasar dalam struktur persaingan sempurna. Pemburu sebagai pengusaha sebagai price taker tidak seorangpun dari mereka yang dapat mempengaruhi tingkat harga. Ketiga, bahwa berapapun berang-berang dan menjangan dibutuhkan  ada tersedia dengan ongkos rata-rata tidak berubah (constant-cost). Model mekanisme harga Smith ini sering disebut model statis komparatif.

Selanjutnya, tingkat harga relatif barang berdasarkan teori jumlah tenaga kerja (labor command theory) ditentukan oleh jumlah tenaga kerja. Dalam hal ini dapat dijabarkan dalam jumlah jam kerja. Jadi menurut contoh tadi, waktu yang diperlukan untuk menangkap berang-berang dua kali lebih lama daripada waktu yang diperlukan untuk menangkap seekor menjangan. Kedua teori ini mempunyai persamaan, tetapi lebih relevan teori ongkos tenaga kerja dalam bentuk ekonomi yang relatif lebih modern. Hanya saja dalam tahap ekonomi yang lebih modern telah terjadi akumulasi modal, sedangkan lahan tidak lagi sebagai barang bebas. Dalam hal ini mulai diperhitungkan laba untuk pemilik modal dan sewa untuk tuan lahan. Dalam hal ini mulai terlihat variabel baru, yakni intensitas modal dalam proses produksi. Dengan demikian, rasio tenaga kerja dengan modal (T/M) berlainan untuk setiap industri. Semakin intensif modal suatu industri cenderung laba juga relatif semakin tinggi. Untuk lahan tingkat kesuburannya berbeda-beda. Dalam hal ini muncul pembahasab baru, yakni distribusi pendapatan secara fungsional.

Penjelasan harga relatif barang melalui teori ongkos produksi adalah sebagai usaha mengatasi kesulitan yang ditemui pada dua teori yang telah dijelaskan tadi. Ada kesulitan yang timbul dengan menggunakan teori nilai tenaga kerja (labor theory of value) dalam tahap ekonomi yang telah maju. Dalam teori ongkos produksi harga relatif ditentukan oleh semua pembayaran yang dikeluarkan untuk semua faktor produksi, seperti tenaga kerja, modal, bahan baku, lahan, dan lain-lain. Dalam pengertian Smith, laba termasuk tingkat bunga. Jadi kalau kita kembali pada contoh perburuan kedua jenis binatang tadi, maka ongkos total untuk menangkap berang-berang (OTb) dan ongkos total untuk menangkap menjangan (OTm) menjadi patokan harga relatif, yakni = OTb : OTm. Ongkos total boleh diganti dengan ongkos rata-rata untuk masing-masing barang. Dalam hal ini tingkat harga alamiah sama dengan ongkos produksi.


4)      Teori Modal dan Distribusi
Pada uraian tadi telah disampaikan bahwa pada ekonomi yang lebih modern, telah terjadi akumulasi modal dan lahan dimiliki tuan lahan, sedangkan pemilik modal mendapat laba. Dengan demikian terjadi pergeseran arti teori nilai yang semula dikemukakan Smith, yang dianggap berlaku pada masyarakat dengan ekonomi yang primitif. Dengan demikian, nilai nyata suatu barang sama dengan ongkos produksi. Jadi sumber nilai bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga lahan dan pemilik modal.
Timbul pertanyaan lain: dari mana nilai surplus itu berasal? Smith menolah pendapat yang menyatakan bahwa surplus berasal dari barang yang dijual dengan tingkat harga di atas nilainya. Nilai itu katanya mengandung dua bagian yakni, kepada tenaga kerja di satu pihak dan pemilik modal (termasuk lahan). Di pihak lain tampaknya pengertian ini bergandengan dengan paham Fisiokrat, yang dsebut dengan produit net. Tetapi Fisiokrat berpendapat bahwa terjadi nilai tambah (value added) sebagai hasil tenaga kerja, bukan hadiah dari alam. Dengan demikian sulit mengatakan bahwa sumber nilai satu-satunya adalah tenaga kerja. Hal ini akan berangkai dengan pandangan Ricardo dan Marx, dalam konsep nilai lebih. Namun, penjelasan Smith  sebagian menyangkut teori distribusi yakni hasil dari setiap golongan masyarakat. Pertama, kelompok kerja subsisten, dan kedua, hasil dari pemilik lahan, dan pemilik modal. Inilah yang membuat teori ongkos produksi lebih relevan dari teori ongkos tenaga kerja.

Dengan demikian, laba merupakan bagian dari nilai barang yang dihasilkan merupakan milik kapitalis. Hubungan upah dan laba berlawanan. Peningkatan persediaan modal karena persaiangan berakibat tingkat laba menurun sedangkan permintaan tegnaga kerja meningkat. Keadaan terakhir ini akan meningkatkan pula tingkat upah. Tingkat laba menurut Smith adalah sekitar jumlah modal yang hilang dalam proses produksi ditambah jasa pemilik modal.

Tingkat laba memang berfluktuasi tetapi dengan kemajuan masyarakat, tingkat laba cenderung turun. Akumulasi modal meningkatkan persaiangan dan negeri semakin banyak penduduknya sedangkan lahan yang kuyrang subur akan digunakan semakin meluas. Berkenaan dengan hal yang terfakhir ini, Smith mengemukakan teori tentang rente sebagaimana juga laba dan upah bagian dari nilai barang. Tetapi efeknya terhadap harga barang tidak seperti efek laba dan tingkat upah. Tinggi rendahnya laba dan upah menyebabkan tinggi rendahnya tingkat barang. Smith berpendapat bahwa rente tidak termasuk penentu tingkat harga. Rente  bukanlah sebab tetapi akibat, maka jika tingkat harga barang meningkat maka rente ikut meningkat. Jika harga hasil pertanian hanya cukup untuk menutupi ongkos-ongkos kapitalis, maka lahan tidak terkena beban sewa, tetapi jika tingkat harga meningkat, maka tuan lahan menjadi monopolis. Sebenarnya, dari pandangan ini terlihat terjadi ketidakazasan teori rente. Dari sini Ricardo memulainya.

Apapun yang telah menjadi kelemahan teori yang dikemukakan Smith, telah mendatangkan sumbangan besar terhadap teori ekonomi waktu itu. Semangat itu, dengan jelas terlihat pada teori nilai yang dikaitkan dengan teori distribusi. Kaitan antara variabel modal, tenaga kerja, tingkat bunga, upah dan laba menjadi terintegrasi. Laba, sewa dan upah adalah tiga dan dan pertumbuhan penduduk akan diikuti peningkatan kekayaan masyarakat. Tetapi semakin tinggi pula nilai barang yang dihasilkan ke tangan tuan lahan. Di lain pihak, peningkatan penduduk meningkatkan permintaan dan tingkat harga, meningkat pula hasil-hasil pertanian dengan demikian makin bertambah modal yang digunakan di sektor pertanian. Dengan terjadinya perbaikan teknologi pertanian, tidak banyak lagi tenaga kerja digunakan, sebagian tenaga kerja digantikan modal. Sebagian hasil kembali kepada tuan lahan.

Jika dikaitkan dengan pembagian kerja yang telah dibicarakan telebih dahulu, maka pembagian kerja dan spesialisasi membutuhkan modal. Penduduk bertambah meningkatkan permintaan. Kaitan ini merupakan teori pertumbuhan ekonomi klasik. Semakin luasnya pasar, maka pembagian kerja pun semakin berkembangan. Peningkatan produktivitas pun diperlukan. Tetapi Smith pun membedakan tenaga kerja yang produktif dan tenaga kerja yang tidak produktif. Tenaga kerja produktif adalah yang menciptakan nilai dan surplus untuk pengusaha. Bagi Smith, tenaga kerja sektor jasa termasuk tenaga kerja tidak produktif.

Kekuatan-kekuatan pertumbuhan ekonomi dirangkaikan menjadi teori pertumbuhan. Kekuatan-kekuatan itu adalah jumlah penduduk yang mendorong permintaan; peningkatan permintaan mendorong perluasan pasar yang didukung efisiensi. Efisiensi menjadi operasional dengan adanya spesialisasi dan pembagian kerja. Namun demikian pertumbuhan memiliki kendala. Kemakmuran yang makin meningkat makin mendorong pertumbuhan penduduk. Ini berarti penawaran tenaga kerja meningkat, oleh karena itu, tingkat upah turun. Kenapa turun? Smith mempunyai teori dana upah. Dana ini disediakan pengusaha dalam jumlah tetap. Tingkat upah adalah sama dengan jumlah dana upah dibagi jumlah tenaga kerja. Turunnya tingkat upah tenaga kerja mendatangkan kesulitan, para pekerja dengan tingkat upah rendah untuk membiayai kebutuhan keluarga yang relatif besar kurang terpelihara, sakit, dan banyak kematian. Dengan begitu terjadi penyesuaian jangka panjang dan alamiah. Semakin itu, tingkat laba turun, akumulasi turun, sewa tanah naik. Dalam situasi demikian sampailah suatu negara dalam stationari state.

Itulah teori-teori utama yang dikemukakan Smith lebih dari 200 tahun yang lalu. Para penafsir kadang-kadang sulit membahas teori tersebut karena ada pendapat Smith yang kurang dan tidak taat azas. Namun tidak mengurangi kebesarannya dalam menyusun teori-teori secara terintegrasi yang lebih maju dar sebelumnya.


  1. b.    Thomas Robert Malthus (1766-1834)
Thomas Robert Malthus adalah seorang tokoh yang paling kontroversial dalam sejarah ilmu ekonomi. Ia terkenal karena doktrin populasinya yang kini dihubungkan dengan nama Malthus. Berlawanan dengan pandangan abad ke-XVIII yang menyatakan bahwa ada kemungkinan meningkatkan standar hidup, Malthus justru berpendapat bahwa perkembangan semacam itu menyebabkan populasi bertambah dan menurunkan keuntungan. Ia juga mengatakan ilmu ekonomi seharusnya ilmu yang empiris ketimbang ilmu deduktif. Ia juga menentang perdagangan bebas dan bantuan pemerintah terhadap pihak miskin.

Malthus lahir tahun 1776 di kota Wotton, Surrey. Pada usia 18 tahun ia masuk ke Jesus College di Cambridge belajar matematika dan filsafat.
Sumbangan yang sangat berarti terhadap pemikiran ekonomi klasik setelah Adam Smith, datang dari David Ricardo. Namun pemikiran yang demikian dikemukakan oleh Thomas Robert Malthus dalam bukunya An Essay on The Principle Of Population As It Affects The Future Improvement Of  Society  tidak dapat dilangkahi. Ricardo memperdalam kajian terhadap teori distribusi fungsional, memperbaiki teori nilai yang telah diutarakan Smith sebelumnya dan pemikirannya tentang perdagangan Internasional. Buku Ricardo yang terkenal Principle of Political Economi and Taxation terbit 19 tahun setelah buku Malthus.

James Stuart Mill hidup dan berkarya dalam masa transisi, di satu pihak dia mempertahankan persaingan sempurna dan kemerdekaan individu tetapi di pihak lain Mill menghadapi berbagai kritik terhadap pemikiran ekonomi klasik. Mill terpengaruh oleh pemikiran sosialis, maka uraian tentang Mill digabungkan dengan pemikiran sosialis. Pada uraian yang berikut akan terlihat variasi pemikiran tokoh ekonomi klasik yang juga disebut Pemikir Ekonomi Ortodoks.
  1. 1.    Malthus yang Pesimis
Pemikiran-pemikiran Smith seperti telah diuraikan sebelumnya penuh optimisme. Penduduk bertambah, permintaan meningkat. Berarti pasar di dalam dan luar negeri meningkat serta pembagian kerja dan spesialisasi berkembang. Semua ini bermuara dalam kekayaan bangsa-bangsa yang meningkat. Dalam jangka panjang semua ini akan sampai pada stationary state.
Dengan terbitnya buku Malthus tahun 1798 pemikiran yang optimis mengalami goncangan dimulai dengan debat Malthus dengan orang tuanya sendiri tentang pendapat seorang ahli politik Inggris dan penulis Perancis William Godwin dan Marquis de Condorcet yang berpaham utopia yang menyatakan sifat manusia bukan karena diwariskan tapi ditentukan lingkungan dimana mereka hidup. Pernyataan ini didasarkan pada berbagai kesengsaraan dan kemiskinan manusia yang ada di lingkungan kehidupannya. Yang bertanggung jawab atas keadaan ini adalah pemerintah. Untuk mengubah keadaan ini diperlukan pembaruan kelembagaan. Godwin dituduh menganut falsafah anarki. Daniel Malthus, ayah Thomas Robert Malthus menyetujui pendapat itu tetapi Malthus muda menolaknya. Ayah Robert adalah seorang Liberal sahabat David Hume dan pernah berkenalan dengan pemikiran Perancis Rousseau.

Malthus muda membantah pendapat itu, setelah membaca teori penduduk yang ditemukannya pada beberapa tulisan sebelumnya, termasuk Wealth of Nations hukum hasil lebih yang berkurang (the law of diminishing returns) yang pernah dikemukakan oleh Turgot. Dengan menggabungkan pemikiran-pemikiran ini, Malthus membantah pandangan Godwin dan Condorcet. Dasar pemikiran Malthus muda sederhana, dengan andaian bahwa nafsu seks manusia dan kebutuhan makanan mempunyai hubungan. Jumlah penduduk meningkat tidak seimbang dengan kenaikan persediaan kebutuhan pokok hidup. Bilamana kemampuan lahan untuk menghasilkan kebutuhan manusia menurun, maka peningkatan bahan pangan tidak dapat mengimbangi jumlah pertambahan penduduk. Bahkan secara khusus tesisnya dinyatakan bahwa penduduk cenderung meningkat secara deret ukur (1, 2, 4, 8, 16,…), sedangkan bahan kebutuhan pokok meningkat menurut deret tambah (1,2,3,4,…).

Sebenarnya, tesis dengan menggunakan deret ukur dan deret hitung itu digunakan sebagai ilustrasi, tetapi justru inilah yang mendapat kritik berlebihan. Malthus engan pernyataan itu dikelompokkan menjadi orang yang pesimis. Dengan kritik-krtik yang dilancarkan terhadap tesis Malthus yang deduiktif itu. Mendorong Malthus umtuk melengkapi bukti-bukti secara induktif. Pada tahun 1803, terbitlah edisi kedua. Pada penerbitan ini, terlihat bahwa buku itu tidak lagi semata-mata untuk membantah pendapat Godwin dan Condercet tetapi telah disusun sedemikian rupa sebagai tulisan ilmiah. Dengan demikian, Malthuslah yang pertama menyusun teori pertumbuhan penduduk. Memang, diakui bahwa bukan Malthus yang pertama mempunyai pandangan tentang masalah-masalah demografis, tetapi kelebihan Malthus adalah menyusun teorinya yang terintegrasi dengan pemikiran ajaran ekonomi klasik.

Ramalan Malthus yang menggambarkan keadaan yang pesimis itu di Eropa Barat, ternyata tidak benar. Apa lagi tidak ada bukti yang menyokong tesis tentang jumlah penduduk dan jumlah bahan pangan yang masing-masing bertumbuh menurut deret ukur dan deret tambah. Kenyataan dalam revolusi industri yang disokong oleh kemajuan teknologi luput dari pembahasan Malthus. Kenyataan memang menunjukkan menjelang berakhirnya abad ke 18 di Inggris terjadi ledakan penduduk tetapi jika dilihat dari kurun waktu yang lebih panjang tingkat pertumbuhan penduduk di negeri itu (sejak 1680) ternyata rendah. Terjadinya ledakan penduduk di Inggris waktu itu karena menurunnya tingkat kematian sedangkan tingkat kelahiran semakin meningkat. Kejadian itu berkaitan dengan perbaikan sanitasi, gizi, dan perumahan penduduk.

Pemikiran Malthus yang kontroversial waktu itu dapat digambarkan sebagai berikut. Pertama, kita perlu melihat latar belakang tentang alasan Malthus berpendapat demikian sehingga dia mencoba dengan segala macam upaya membantah pendapat Godwin dan Condorcet tentang kesempurnaan manusia. Manusia pada kelahirannya adalah baik, dan lingkunganlah yang menyebabkan manusia itu jahat, jadi miskin dan papa. Malthus melihat pada waktu itu: (1) menjelang tahun 1790, Inggris dalam keadaan swasembada pangan tetapi pada tahun itu Inggris harus mengimpor bahan pangan; (2) terjadi proses pemiskinan penduduk yang berpendapatan rendah dengan berlangsungnya revolusi industri Inggris semakin menuju masyarakat kota, diman produksi yang dibuat dalam rumah tangga beralih ke pabrik-pabrik. Dalam proses yang demikian terjadi peningkatan jumlah penduduk yang miskin di kota-kota.

Kedua, dalam bukunya yang terbit pada edisi pertama, dia mengemukakan dua dasar utama sebagai andaian, pertama, untuk kehadiran manusia diperlukan bahan pangan; kedua, nafsu sex antar kelamin merupakan kebutuhan yang tidaka akan berubah. Dengan andaian ini, maka disimpulkannya peningkatan penduduk lebih cepat daripada pertumbuhan bahan pangan, peningkata variabel pertama menurur deret ukur, sedangkan yang kedua menurut deret hitung, inilah yang menyebabkan kemiskinan dan menjadi kikir. Malthus menentang pula undang-undang subsidi kepada orang miski (poor laws). Dalam edisi pertama, tidak ada bukti statistik untuk mendukung pendapat itu, bahkan belum dikemukakan hukum hasil lebih yang berkurang, tetapi dinyatakan lahan yang terbatas. Karena itu, Malthus mengemukakan cara mengatasinya yakni dengan melakukan pembatasan (check). Dalam buku yang pertama, Maltuhs mengajukan dua cara pembatasan, yakni pengendalian positif dan negatif. Pengendalian positif (positive check) adalah perang, kelaparan dan penyakit, sedangkan pengendalian negatif dengan menunda perkawinan. Tetapi dengan menunda perkawinan dapat menimbulkan krjahtan sexual, seperti hubungan sex sebelum kawin dan perkosaan. Untuk mengatasi ini tidak mungkin dengan meniadakan struktur kelembagaan yang ada, karena kejahatan dan kemiskinan dalam masyarakat disebabkan oleh kebutuhan pangan dan sex yang kuat.

Ketiga, pendapat Malthus yang menjadi kontroversi dan mendapat kritik keras dari penentangnya mendorong Malthus menyempurnakan bukunya yang kemudian terbit untuk kedua kalinya pada tahun 1803. Dalam buku ini, baik tujuan dan metodologi, maupun kesimpulannya mengalami perubahan. Seperti telah diutarakan sebelumnya metodologi yang digunakan Malthus semata-mata deduktif telah dilengkapi dengan metode induktif pada edisi kedua. Misalnya, dua cara pembatasan pertumbuhan penduduk telah menjadi tiga cara, yakni dengan melakukan kendali moral (moral restraint). Maksud kendali moral adalah menunda perkawinan tanpa melakukan hubuangan sex sebelumnya. Buku Malthus terbit sampai dengan tujuh edisi dengan tidak banyak lagi mengalami perubahan. Isi edisi inilah yang mantap sampai sekarang.

Keempat, beberapa kritik yang dikemukakan terhadap pemuikiran Malthus adalah kelemahan yang dikemukakan dalam tulisannya. Antara lain Malthus tidak membedakan naluri, kebutuhan sex dengan keinginan manusia mempunyai keturunan, dan cara pembatasan yang dikenal sekarang, yakni melalui kontrasepsi. Selanjutnya, kemampuan kemajuan teknologi dalam peningkatan bahan pangan yang berasal dari sektor pertanian. Namun hal terakhir ini tidak adil bila menyalahkan Malthus. Para pemikir ekonomi pada waktu itu mengabaikan hal pengaruh teknologi terhadap kemajuan ekonomi.
Anehnya, dan ini dapat dilihat dewasa ini tesis Malthus yang sangat relevan bukan di dunia Barat tetapi di negeri dunia ketiga, seperti Asia, Afrika, dan amerika Latin. Masalah kependudukan telah dikaitkan pula dengan masalah lingkungan. Dengan demikian, kembali para ahli ekonomi mengkaji pemikiran Malthus dan mencoba untuk melakukan revisi, di negeri-negeri maju, memang bukanlah masalah pertumbuhan penduduk yang utama, tetapi kepadatan penduduk dan industrialisasi telah memperburuk lingkungan kehidupan manusia.

Pengembangan dasar teori kependudukan dari Malthus tidak hanya dalam pemikiran ekonomi selanjutnya tetapi juga digunakan oleh Charles Darwin untuk menjelaskan teori evolusinya. Darwin berutang budi kepada Malthus. Hal ini di luar perkiraan Malthus bahwa teorinya digunakan untuk menjelaskan teori evolusi. Teori kependudukan yang dikemukakan Malthus sangat besar sumbangannya dalam pembahasan pembangunam ekonomi. Teori ini bergabung dengan teori dana upah dari Smith dan teori teori hasil lebih yang berkurang, merupakan model pembangunan ekonomi klasik. Model ini banyak mendapat kritik yang selanjutnya dibicarakan lagi dalam pemikiran David Ricardo. Begitu juga, sumbangan Malthus dalam perbedaan rente lahan lebih tajam dikembangkan oleh Ricardo. Sebenarnya, sumbangan yang besar dari Malthus terhadap teori ekonomi adalah terjadinya keseimbangan penawaran dengan permintaan yang terkenal dengan theory of geluts, yakni penawaran tergantung pada permintaan.

SUMBER
http://nanxsu.blog.com/2012/03/27/teori-ekonomi-klasik/ 
http://blogsiffahartas.blogspot.com/2011/05/teori-ekonomi-klasik.html 

PERTUMBUHAN EKONOMI

Pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai masalah makro ekonomi dalam jangka panjang. Perkembangan kemampuan memproduksi barang dan jasa sebagai akibat pertambahan faktor-faktor produksi pada umumnya tidak selalu diikuti oleh pertambahan produksi barang dan jasa yang sama besarnya. Pertambahan potensi memproduksi seringkali lebih besar dari pertambahan produksi yang sebenarnya. Dengan demikian perkembangan ekonomi adalah lebih lambat dari potensinya. (Sadono Sukirno, 1994;10).

Sumber Kenaikan Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi umumnya didefinisikan sebagai kenaikan GDP riil per kapita. Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product, GDP) adalah nilai pasar keluaran total sebuah negara, yang merupakan nilai pasar semua barang jadi dan jasa akhir yang diproduksi selama periode waktu tertentu oleh faktor-faktor produksi yang berlokasi di dalam sebuah negara.
Kenaikan GDP dapat muncul melalui:

1. Kenaikan penawaran tenaga kerja
Penawaran tenaga kerja yang meningkat dapat menghasilkan keluaran yang lebih banyak. Jika stok modal tetap sementara tenaga kerja naik, tenaga kerja baru cenderung akan kurang produktif dibandingkan tenaga kerja lama.

2. Kenaikan modal fisik atau sumber daya manusia
Kenaikan stok modal dapat juga menaikkan keluaran, bahkan jika tidak disertai oleh kenaikan angkatan kerja. Modal fisik menaikkan baik produktivitas tenaga kerja maupun menyediakan secara langsung jasa yang bernilai. Investasi dalam modal sumber daya manusia merupakan sumber lain dari pertumbuhan ekonomi.

3. Kenaikan produktivitas
Kenaikan produktivitas masukan menunjukkan setiap unit masukan tertentu memproduksi lebih banyak keluaran. Produktivitas masukan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor termasuk perubahan teknologi, kemajuan pengetahuan lain, dan ekonomisnya skala produksi. (Case dan Fair, 1999;326) 



MANFAAT PERTUMBUHAN EKONOMI
Manfaat Pertumbuhan Ekonomi antara lain sebagai berikut: 

Laju pertumbuhannya untuk mengukur kemajuan ekonomi sebagai hasil pembangunan nasional Pendapatan perkapitanya dipergunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran penduduk, sebab semakin meningkat pendapatan perkapita dengan kerja konstan semakin tinggi tingkat kemakmuran penduduk dan juga produktivitasnya.
Sebagai dasar pembuatan proyeksi atau perkiraan penerimaan negara untuk perencanaan pembangunan nasional atau sektoral dan regional. Sebagai dasar penentuan prioritas pemberian bantuan luar negari oleh Bank Dunia atau lembaga internasional lainnya.
Sebagai dasar pembuatan prakiraan bisnis, khususnya persamaan penjualan bagi perusahaan untuk dasar penyusunan perencanaan produk dan perkembangan sumbur daya (tenaga kerja dan modal). (Dornbuch, R dan Fischer, S, 1994:649-651)



RUMUS MENGHITUNG PERTUMBUHAN EKONOMI
Perhitungan pendapatan nasional secara ini memungkinkan tingkat pertumbuhan ekonomi secara langsung di hitung dari data pendapatan nasional rill yang tersedia. Formula yang akan digunakan untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi ialah:

g = (PN rill1 – PN rill 0) / (PN rill 0)

Keterangan:
g   = tingkat pertumbuhan ekonomi
PN riil 1 = pendapatan nasional untuk tahun dimana tingkat pertumbuhan ekonominya dihitung.
PN riil 0 = pendapatan nasional pada tahun berikutnya untuk menentukan tingkat pertumbuhan 
ekonomi perhitungan harus dilakukan dengan dua cara yaitu:

PN rill a = 100 / IH a x PN masa ini

Keterangan:
IH a = indeks harga atau pendeflasi pendapatan nasional (GNP deflator )
PN  = pendapatan nasional
Contoh soal :
Pada tahun 2007 pendapatan nasional rill adalah Rp 150,2 triliun sedangkan pada tahun 2008 nilainya telah meningkatkan kepada Rp 158,8 triliun. Dengan demikian tingkat pertumbuhan yang dicapai Negara itu adalah: 
g2007 = (158,8-150,2 )/150,2 x 100 = 5.7 persen.
Pada tahun 2002 produk domestic bruto menurut harga yang berlaku Rp 198,4 triliun dan pada tahun 2003 nilainya telah menjadi Rp 224,7 triliun, indeks harga tahun 2002 adalah 152 dan dalam tahun 2003 harganya 160 . Dengan data seperti terlebih dahulu harus dihitung pendapatan nasional rill tahun 2003, yaitu:
PN – rill2003 = 152/160 x Rp 224,7 triliun = 213,4 triliun
Dengan demikian sekarang kita telah dapat menghitung tingkat ekonomi pada tahun 2003:
Tingkat pertumbuhan ekonomi = (213,4-198,4)/198,4 x 100 = 7,5 persen

SUMBER 
http://bojonegorocoaster.wordpress.com/2013/11/10/cara-menghitung-tingkat-pertumbuhan-ekonomi/ 
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/01/pertumbuhan-ekonomi-definisi-sumber.html