- 1. Latar Belakang Munculnya Teori Ekonomi Klasik
Pemikiran-pemikiran tentang ekonomi sudah sangat berkembang pada
abad
ke-XV, saat terjadi revolusi pertanian di Eropa. Akan tetapi pengakuan
terhadap ilmu ekonomi sebagai cabang ilmu tersendiri baru diberikan pada
abad ke-XVIII, setelah
Adam Smith
muncul dalam percaturan ekonomi. Adam Smith (1729-1790) tidak
disangsikan lagi merupakan tokoh utama aliran ekonomi yang di kenal
sebagai aliran klasik.
Aliran atau mazhab yang dikembangkan Adam Smith disebut mazhab klasik
sebab gagasan-gagasan yang ia tulis sebetulnya sudah banyak dibahas dan
dibicarakan oleh pakar-pakar ekonomi jauh sebelumnya. Misalnya, soal
paham individualisme tidak banyak berbeda dengan paham hedonisme yang
dikembangkan oleh Epicurus masa Yunani kuno. Begitu juga dengan
pendapatnya agar pemerintah melakukan campur tangan seminimal mungkin
dalam perekonomian (
Laissez faire laissez passer) sudah dibicarakan oleh
Francis Quesnai sebelumnya. Karena gagasan-gagasan Smith banyak yang sudah klasik, oleh musuh bubuyutannya,
Karl Marx, aliran yang dikembangkan kembali oleh Smith ini disebut sebagai mazhab klasik.
Adam Smith sebagai pendiri paham Klasik hidup pada tahap awal
revolusi industri di Inggris. Pandangan-pandangannya yang optimis
tentang kekayaan bangsa-bangsa tidak orisinal, tetapi dia telah berhasil
mengutuhkan berbagai pandangan yang relevan dengan pembahasannya.
Pembahasan teori ongkos produksi, upah, laba, dan sewa lebih utuh dan
terkait dibicarakan. Di samping itu, teori pembangunannya telah
memperhitungkan pertumbuhan penduduk, pembagian kerja dan akumulasi
modal.
Pada generasi berikutnya pandangan-pandangan ekonomi klasik cenderung
bersifat pesimis. Hal ini berkaitan dengan teori penduduk dari Malthus
dan teori upah, laba, dan sewa lahan dari Ricardo. Hal ini disusul pula
oleh berbagai kritik yang tajam terhadap pemikiran-pemikiran ekonomi
klasik.
John Stuart Mill seorang tokoh ekonomi yang hidup di ujung masa aliran klasik, pembahasan-pembahasannya versifat eklektik (
eclectic).
Sumbangannya yang terkenal terhadap pemikiran ekonomi antara lain
adalah hukum produksi dan distribusi, dasar teori perdagangan
internasional, dan mengembangkan metodologi ekonomi.
- 2. Ruang Lingkup Ekonomi Klasik
- a. Kemerdekaan Alamiah.
Landasan pandangan ekonomi klasik adalah kepentingan-pribadi dengan
kemerdekaan alamiah. Kemerdekaan pribadi sedemikian sempurnanya,
sehingga setiap orang tahu apa yang perlu, apa yang menguntungkan bagi
dirinya. Pada sekitar tahun 1776, kepulauan Inggris masih dalam tahap
transisi. Dunia perdagangan baik di dalam maupun keluar negeri telah
berkembang, sedangkan sektor industri dan pertanian mulai menampakkan
perbaikan. Dengan pandangan-pandangannya itu sebenarnya Smith menentang
arus, oleh karena arus pemikiran Merkantilis masih berkembang, yang
menekankan peranan negara dalam kegiatan ekonomi. Namun demikian
terlihat dengan jelas kesinambungan alur pemikiran Fisiokrat dengan
dasar pemikiran ekonomi klasik.
Pendekatannya, bila dibandingkan dengan pemikiran-pemikiran paham
sebelumnya, lebih terpadu, konsisten, mendalam, dan bersifat lebih umum.
Membicarakan kekayaan sangat penting, karena itulah subyek pengkajian
ekonomi. Dia menantang pandangan kaum Merkantilis yang menyatakan bahwa
kekayaan itu terdiri dari uang dan logam-logam mulia. Perdagangan
internasional bukan semata-mata untuk mendapatkan logam-logam mulia
tetapi untuk pertukaran komoditi yang diperlukan, memperluas pasar dan
hal ini akan meningkatkan pembagian kerja.
- b. Pemikiran yang pesimistik
Revolusi industri pada abad ke 19 di inggris, selain menjadikan
negara tersebut menjadi negara industri yang maju juga mendatangkan hal
yang kurang menyenangkan seperti kemiskinan, pengangguran, tenaga kerja
anak-anak dan tekanan-tekanan baru dalam kehidupan, baik di kota maupun
pedesaan. Dalam keadaan demikian,
Thomas
Robert Malthus (1766-1834), membahas tentang jumlah penduduk yang
bertambah lebih cepat dari pada pertumbuhan bahan makanan. Bukunya yang
berjudul
An Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society,
terbit pada tahun 1798. Malthus menolak pandangan William Godwin dan
Condorcet dan pandangan-pandangan yang optimistik pada abad ke 18.
Selanjutnya Ricardo (1783-1823) datang juga dengan teori distribusi.
Yang lebih tajam yang mengandung pertentangan antara tuan-lahan, pemilik
modal dan tenaga kerja. Selain itu sewa lahan akan meningkat karena
lahan-lahan subur semakin langka. Ricardo mengembangkan lebih lanjut
teori nialai kerja dan memberi penjelasan lain tentang perdagangan
internasional bila dibandingkan dengan pandangan kaum Merkantilisme.
John
Stuart Mill (1806-1873), salah satu intelektual, filsuf, pemikir ekonomi dan politik menulis buku
Principles of Political Economy, With Some of Their Application to Social Philosophy. Buku
ini menguasai ajaran-ajaran ekonomi tidak hanya di Inggris, tetapi juga
di negeri-negeri yang menggunakan bahasa Inggris. Pemikirannya sangat
dipengaruhi oleh
Jeremy Bentham
(1748-1832). Pemikiran-pemikiran yang terdapat pada buku ini pada
umumnya merupakan pengulangan berbagai teori yang telah dibicarakan oleh
ahli-ahli sebelumnya, tetapi dua sumbangannya yang terkenal adalah
permintaan timbal balik dalam perdagangan internasional dan membedakan
hukum-hukum produksi dan distribusi. Mill menyetujui prinsip-prinsip
ekonomi sosialis, sehingga ada anggapan bahwa Mill telah meninggalkan
ekonomi dengan dasar individu yang merdeka. Anggapan ini sampai sekarang
menjadi kontroversi. Namun demikian dalam bukunya Mill masih
melanjutkan tradisi ekonomi klasik, namun pada masanyalah kritik-kritik
itu memuncak bersamaan dengan munculnya pembahasan-pembahasan ekonomi
sosialis yang lebih tajam.
- c. Individu dan Negara
Kritik mereka yang tajam terhadap pemikiran ekonomi klasik diajukan pada dasar pemikirannya, yakni tentang semboyan
Laissez-faire.
Ini berarti mereka menolak pandangan tertib-alamiah dan kemerdekaan
alamiah, ataupun pemikiran ekonomi yang atomistik. Para pengriktik ini
bertolak dari prinsip-prinsip bahwa peran negaralah yang lebih
tama,
yang lebih berorientasi kepada dasar-dasar ekonomi sosialis. Selain
itu, kritik-kritik tersebut diajukan pula terhadap metodologi dan
kelembagaan yang bersifat politis, sosiologis dan historis. Karl Marx
pula yang memberi nama faham ekonomi yang dipelopori Adam Smith itu
dengan sebutan ekonomi klasik, yakni pemikiran ekonomi yang sudah tua.
Namun demikian, pemikiran-pemikiran ekonomi yang tua dan kuno itu sampai
sekarang masih mempunyai tradisi yang kuat.
- 3. Tokoh Aliran Ekonomi Klasik
- a. Adam Smith (1729-1790)
Smith lahir di Kirkcaldy kota kecil dekat Eddinburg, Scotlandia tahun
1723. Ayahnya adalah pengacara dan pengawas keuangan bea nasabah.
Ayahnya meninggal tak
lama setelah Smith lahir, sehingga ia debesarkan ibunya dan dijaga orang kepercayaan ayahnya. Smith memasuki
Glasgow University
pada usia 14 tahun setelah meneruskan studinya di Kirkcaldy. Di
Universitas ini Smith mempelajari ilmu etika hukum-alamiah dan ekonomi
dari Francis Hutcheson (1694-1746). Mereka berasal dari daerah yang sama
yaitu Scotlandia. Hutcheson sebagai guru besar dalam filsafat moral
mengajarkan bahwa individu sendirilah yang dapat menentukan apa yang
baik menurut etis bagi dirinya, tanpa memperoleh pengetahuan terlebih
dulu dari Tuhan, dan kebahagiaan individu merupakan ukuran tentang
kebaikan. Sebagai perintis gagasan itu, Hutcheson mendapat tuduhan
subversi doktrin gereja. Dia mendapatkan hukuman dari Dewan Gereja
lokal, tetapi kemudian dibebaskan dan diijinkan untuk melanjutkan
ajarannya. Sewaktu itu, Smith menjadi salah seorang muridnya.
Selanjutnya, Smith melanjutkan studinya ke Oxford University dengan
besiswa selama 6 tahun (sampai tahun 1746).
Di sini, Smith mengenal David Hume (1711-1776) melalui kelompok
intelektual Eddinburg karena ia mengajar di Eddinburg University
(1748-1751). Hume adalah seorang filsuf dan ekonom yang melanjutkan
ajaran John Locke, yang bersifat empirik tentang sebab dan akibat.
Melalui Hume, pendekatan Smith tentang konsep hukum-alamiah berubah.
Hume pula yang merangsangsangnya untuk melakukan generalisasi tentang
perilaku manusia dengan mempelajari sejarah. Pada tahun 1751 hingga 1763
Smith kembali mengajar di Universitas Glasgow. Dia guru besar dalam
filsafat
moral
menggantikan Hutcheson. Materi pengajaran yang diberikan pada setiap
kuliah itulah yang menjadi sumber dua buah bukunya yang terkenal yaitu,
pertama
The Theory of Moral Sentiment (1759) yang banyak
menghubungkan masalah ekonomi dan moral. Buku ini serta bahan-bahan
kuliah yang diberikan di Universitas Glasgow menjadi sumber utama
penulisan buku yang kedua,
An Inquiry in to the Nature and Causes of The Wealth of Nations
(1776). Buku yang ditulis oleh Smith tersebut dianggap sebagai
pancangan pertama tonggak sejarah perkembangan ilmu ekonomi, oleh sebab
itu ia diberi gelar “Bapak Ilmu Ekonomi”. Smith juga merupakan pendiri
Glasgow Literary Society dan
Political Economy Club. Pendiri lain David Hume dan James Watt dengan anggota para guru besar lainnya dan para pengusaha lokal.
1) Sumber Pemikiran
Paham filsafat naturalis merupakan landasan pemikiran Smith. Tetapi
Smith tidak mulai dari nol, rantai panjang telah merangkai landasan
tersebut. Dalam aliran ini ditemukan nama-nama Stoic dan Epicturus dalam
filsafat alamiah Yunani kuno. Dalam kerajaan Romawi juga tercatat
nama-nama besar, seperti Cicero, Seneca dan Epictitus. Selanjutnya dalam
kurun waktu Renaissance dan Reformasi aliran ini kembali mengalami
modifikasi dalam karya-karya Bacon, Hobbes dan Locke. Aliran Pisiokrat
mengembangkannya lebih lanjut dan pada masa Adam Smith sepenuhnya mekar
dalam pemikiran ekonomi. Seperti dikatakan Eric Roll:
“
Its claims that all that wise social organizatin need do is to
act as nearly a possible in harmony with the dictates of the natural
order. … Their common characteristic, however, is the principle from
which they claim authority: the superiority of natural over man-made law.”
Berbagai teori yang dibahas oleh Smith berutang budi kepada nama-nama
yang telah terkenal sebelumnya. Teori tentang uang, Smith mengembangkan
pendapat Hume dan Locke, bahkan uga Steurt. Karangan-karangan Petty,
Steurt dan Cantillon merupakan perintissebelum Smith membicarakan teori
nilai. Seperti telah diutarakan sebelumnya, teori pembagia kerja berasal
dari Plato, Aristotles, dan Xenophon.bahkan contoh yang dibuat Smith
tentang pembagian kerja dalam pabrik jarum telah dimuat dalam sebuah
Encyclopedie
yang terbit tahun 1775 di Perancis. Seorang guru besar di Universitas
of Edinburgh yang bernama Adam Ferguson (1723-1816), telah menulis hal
yang sama, sehingga timbul saling tuduh menuduh siapa memplagiat siapa.
Pemikiran utama yang ditulis Smith meliputi Filsafat sosial dan
politik dan pemikiran ekonomi diturunkan dari filsafat itu; kedua,
hal-hal yang mengandung ekonomi teknis.
2) Filsafat Sosial dan Politik
Masalah yang dibahas Adam smith dalam bukunya meliputi produksi,
distribusi dan pertukaran yang pernah dilakukan sebelumnya pada berbagai
negeri, kemudian melakukan perbaikan dengan mengintegrasikan
teori-teori tersebut dalam lingkupan yang bersifat makro. Pengarang
The Wealth Of Nations ini menyatakan bahwa pada hakekatnya perilaku manusia mempunyai enam motif. Keenam motif itu adala cinta diri sendiri (
self-love), simpati, keinginan untuk merdeka, mempunyai sopan santun (
sense of propriety),
senang bekerja dan cenderung untuk saling menukar, barter dengan
barang-barang lain. Dengan dasar dan motif ini manusia bebas
mempertimbangkan dan memperoleh apa yang dia rasa patut untuk
kepentingan dirinya. Mencintai diri sendiri saling berkaitan dengan
motif-motif lainnya, terutama dengan motif simpati dengan motif ini
akan dicapai keseimbangan alamiah perilaku manusia, yang katanya diatur
oleh
invisible hand. Konsekuensi dari motif tersebut adalah
campur tangan pemerintah yang terlalu jauh yang akan bersifat negatif.
Tiga tugas utama pemerintah adalah: pertama, tugas pertahanan dan
keamanan; kedua, menjamin tegaknya keadilan; dan ketiga, mempersiapkan
public works dan
hal-hal yang bersifat kelembagaan yang tidak dapat dilakukan secara
individu, atau kelompok individu dan tidak cukup menguntungkan. Menjamin
kedamaian dalam dan luar negeri, keadilan,
pendidikan
dan prasarana minimum untuk kegiatan usaha masyarakat seperti,
jalan-jalan raya, pelabuhan, jembatan, kanal-kanal. Inilah tugas
pemerintah, di luar itu diatur oleh tangan yang tersembunyi.
Pandangan tersebut mendapat tantangan yang kuat dari penentangnya,
baik dari para ahli ekonomi maupun dari pihak pemerintah yang berkuasa
pada waktu itu. Smith senantiasa menekankan bahwa kepentingan pribadi
itu saling berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Oleh karena seorang
individu adalah dari suatu masyarakat, yang senantiasa menolong orang
lain, tetapi adalah percuma untuk selalu mengharapkan kebajikan orang
lain.
Inilah pendapatnya yang tampaknya sangat angkuh:
“it’s not from the benevolence of the buthcer, the brewer, or
the baker, that we expect our dinner, but from their regard to their own
interest.”
Selanjutnya, pertukaran akan mendatangkan kepuasan serentak bagi dua
kepentingan individu. Setiap orang menghasilkan sesuatu yang dapat
menguntungkan dirinya dan dipertukarkan dengan orang lain. Ini berarti,
pembuatan barang atau jasa telah mempertimbangkan kepentingan orang
lain.
Smith tidak hanya melihat sektor pertanian sebagai sektor yang
produktif, tetapi mempelajari lebih luas hubungan perdagangan, industri
dengan pertanian. Dengan mendorong investasi ke sektor industri akan
mengembangkan sektor pertanian dan menimbulkan kegiatan pertukaran. Ini
berarti memajukan perdagangan. Merupakan suatu kebijakan bagi setiap
keluarga, jika membuat barang-barang yang harganya lebih murah.
Sebaliknya, jika harga barang itu lebih mahal jika dibuat sendiri, maka
lebih baik membeli.
Tantangan tidak kecil. Mengoperasionalkan naturalisme dalam
kebijaksanaan ekonomi, harus terlebih dulu berjuang mengurangi pengaruh
merkantilisme dalam perdagangan, peraturan dan retriksi dalam dunia
industri dan perdagangan yang telah bercokol lama sejak seabad
sebelumnya. Disamping itu, struktur monopoli yang kuat dan hak-hak
istimewa dari beberapa kelompok orang-orang kaya dan bangsawan masih
berkuasa. Kebijaksanaan yang sangat didominasi negara pada waktu itu (di
Inggris) adalah menyangkut perdagangan luar negeri dengan kontrol yang
sangat tepat, proteksi perdagangan. Demikian juga bidang yang menyangkut
tenaga kerja seperti upah, latihan, dan semua aspek produksi mendapat
perhatian dari Smith. Semuanya memerlukan perombakan. Smith berpendapat
bahwa kelangsungan persaingan bebas perlu dijamin.inilah tugas
kebijaksanaan ekonomi yang utama yang diprioritaskan. Peranan pemerintah
sangat minimum. Hanya dengan persaingan yang demikian, yang konsisten
dengan kemerdekaan alamiah, yang mendorong kemajuan. Setiap orang dapat
memperoleh hasil dari usahanya dan memberikan sumbangan penuh untuk
kepentingan bersama.
Hasil-hasil yang dicapainya luar biasa. Pemikirannya sangat
berpengaruh kepada para usahawan dan politisi. Dia berbicara dengan para
industrialiawan, yang memang menginginkan pasar bebas.
Pandangan-pandangannya senantiasa menentang pengaturan ekonomi oleh
negara dan sangat tidak setuju dengan monopoli serta hak-hak istimewa
yang dimiliki oleh sekelompok orang. Ini harus ditiadakan jika ekonomi
masyarakat ingin dikembangkan, sehingga kepuasan seluruh masyarakat
untuk memenuhi kebutuhan dapat ditingkatkan.
3) Teori Nilai
Teori nilai tidak kurang dari dua ratus tahun sebeluim buku Smith
yang terkenal itu terbit, ahli-ahli ekonomi senantiasa mencari sumber
akhir kekayaan suatu bangsa. Seperti telah diutarakan pada uraian aliran
pemikiran ekonomi, merkantilisme mengandalkan sumber kekayaan pada
perdagangan luar negeri. Sedangkan aliran fisiokrat melihatnya dari
sektor pertanian dan pertukaran. Adam Smith melanjutkan
pemikiran-pemikiran yang telah ada sebelumnya yakni yang telah
dikemukakan oleh Petty dan Chantillon. Smith melihat bahwa tenaga kerja
adalah sumber dari kebutuhan hidup. Menurut Smith, kekayaan suatu bangsa
tergantung pada: Pertama, tingkat produktivitas tenaga kerja dan kedua,
jumlah penggunaan tenaga kerja, yakni tenaga kerja produktif yang
terpakai.
Mebicarakan hal pertama, menyangkut pembagian kerja (
division of labour), pertukaran (
exchange),
uang dan distrisbusi. Ke dalam hal kedua, termasuk pembahasan model.
Smith memulai pembahasan pembagian kerja karena hal ini menyangkut dasar
terjadinya transformasi dari bentuk tenaga kerja yang konkrit dan
produktif yang menghasilkan barang-barang (nilai guna)
menjadikan
tenaga kerja sebagai suatu unsur sosial. Secara abstrak, inilah yang
menjadi sumber kekayaan (nilai tukar). Pembagian kerja adalah dasar
untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
Smith mungkin keliru, dengan mengatakan bahwa tidak mungkin ada
pertukaran tanpa pembagian kerja. Tetapiyang dimaksud Smith adalah nahwa
ada kaitan antara pasar dengan produktivitas, sedangkan perdagangan
harus belangsung dengan bebas untuk pengembangan kekuatan-kekuatan
prodktif. Kekuatan0kekuatan produktif inilah yang menghasilkan kekayaan
bangsa. Kekayaan bangsa bagi Smith adalah bukanlah hanya emas da perak,
tetapi haruslah barang dan jasa. Hal ini bergantung pada produktivitas
tenaga kerja dan bagian tenaga kerja yang terpakai. Smith mempunyai
andaian bahwa keadaan ekonomi senantiasa dalam keadaan
full employment.
Sebenarnya, dengan membicarakan hal ini, secara langsung mengingatkan
kita pada kurva transformasi (sering juga disebut production possibility
curve).
Selanjutnya, faktor-faktor yang menentukan produktivitas tenaga
kerja adalah pembagian kerja. Artinya, dengan spesialisasi dan pembagian
kerja produktivitas dapat meningkat. Hal ini ada benarnya, tetapi di
pihak lain terjadi kerugian sosial karena pekerjaan yang berulang-ulang
dan menonton. Malahan manusia berperilaku sebagai mesin dalam proses
produksi, kurang manusiawi, dan pekerja relatif cepat bosan dengan
pekerjaannya.
Setelah diuraikan dasar teori nilai yang merupakan sumber dari
kekayaan bangsa-bangsa, maka sekarang timbul pertanyaan yang menyangkut
aspek teknis. Pertama, apa pengukur nialai yang terbaik; kedua,
faktor-faktor apa yang menentukan bahwa suatu barang mempunyai nilai;
ketiga, faktor-faktor apa yang menetukan tingkat harga umum? Secara
singkat pertanyaan ini dapat dijelaskan bahwa jawaban yang pertama
menyangkut cabang ilmu ekonomi tentang kesejahteraan (
welfare economics), yang kedua, mengenai faktor yang menentukan harga relatif, dan yang ketiga menyangkut pembahasan ekonomi makro.
Dalam pembahasannya tentang ketiga hal itu, Smith kurang tajam membedakan, bahkan sering meragukan. Karena membicarakan
welfare economics relatif
subyektif, dan kadang-kadang Smithkembali kepada aliran Skolastik, maka
uraian selanjutnya yang lebih terinci adalah pertanyaan yang menyangkut
harga relatif. Ada tiga penjelasan yang dapat digunakan untuk
menerangkan teori harga relatif.
Pertama, melalui ongkos produksi; Kedua, teori utilitas margina,
dimana harga relatif ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Ekonomi
klasik pada umumnya menggunakan penjelasan pertama walaupun
kadang-kadang Smith menggunakan aspek permintaan. Penjelasan harga
relatif melalui ongkos produksi dapat juga dari sisi penawaran. Uraian
lebih lanjut adalah tingkat harga relatif yang ditentukan ongkos
produksi.
Menurut Smith, harga alamiah (
natural price) dalam
keseimbangan jangka panjang ditentukan oleh ongkos produksi.
Pembahasannya adalah sektor industri manufaktur dan pertanian.
Dalamjangka pendek, baik manufaktur maupun pertanian kurva permintaanya
turun sedangkan kurva penawaran nauik. Tetapi dalam jangka panjang,
sektor pertanian mempunyai kurva penawaran yang juga naik karena ongkos
produsi meningkat. Selanjutnya, ada sektor manufaktur, kurva penawaran
jangka panjang horizontal, karena mencapai ongkos tetap (
cnstante cost),
sedangkan ada bagian lain adalah kurva penawaran yang menujrun, karena
ongkos yang menurun. Jadi ada dua jenis kurva penawaran pada sektor
manufaktur yakni, dalam jangka panjang kurva elastis sempurna dimana
harga relatif tergantung ongkos produksi, kemudian kurva menurun karena
harga alamiah ditentukan permintaan dan penawaran.
Terjadi ketidaktaatan dari uraian Smith, ada pendapan yang menyatakan hal ini karena penulisan
The Wealth of Nation yang
menggunakan waktu lama. Para ahli sependapat, pandangan Smith yang
dominan adalah melihat harga alamiah ditentukan ongkos produksi jangka
panjang jadi bersifat ekonomi penawaran (
supply side economi).
Telah diutarakan arti nilai bagi Smith adalah nilai guna dan nilai
tukar. Namun ada persoalan yang tidak diselesaikan oleh Smith dan juga
para ahli ekonomi klasik yaitu
Diamond Water Paradox. Nilai
guna barang tinggi tetapi tidak mempunyai atau kecil nilai tukarnya.
Sebaliknya, barang mempunyai nilai tukar yang tinggi tetapi tidak atau
sedikit nilai gunanya. Contohnya Intan mempunyai nilai guna yang relatif
langka tapi kuantitas tinggi dibanding nilai tukar barang lain. Air
nilai gunanya tinggi tapi nilai tukarnya rendah.
Smith menyatakan nilai tukar adalah kekuatan suatu barang untuk
membeli barang lain. Inilah harganya sebagai ukuran objektif dalam
pasar.
Teori harga relatif dari Smith dapat dijelaskannya melalui: Pertama,
teori ongkos tenaga kerja, Kedua, teori jumlah tenaga kerja; dan Ketiga
teori ongkos produksi. Smith terlebih dahulu membedakan dua keadaan
ekonomi primitif dan maju. Tahap pertama, teori pertama dan kedua
sesuai. Kedua teori ini mengabaikan akumulasi modal dan nilai lahan,
jadi ongkos produksi ditentukan tenaga kerja. Dalam teori ongkos tenaga
kerja jika ongkos menangkap seekor berang-berang dua kali ongkos
menagkap seekor menjangan, maka pertukaran di pasar, seekor
berang-berang harus ditukarkan dua ekor menjangan. Contoh tadi tanpa
modal, tanpa lahan dan kedua binatang itu bersifat alamiah bebas diburu.
Jika si B dan Si A bekerja satu hari tujuh jam, B menghasilkan dua
satuan barang, sedangkan A membuat satu-satuan barang yang sama. Andaian
Cateris Paribus dapat digunakan namun terlihat keterampilan
kerja, kerajinan, kerapihan dan kejujuran. Jika kualitas barang yang
dihasilkan sama, berapa harga barang tersebut persatuan?
Secara singkat, jawabannya bukan jumlah tenaga kerja yang digunakan
untuk memproduksi barang tersebut, tetapi barang itu mempunyai nilai
sama dengan upah yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Dalam teori
ekonomi, harga alamiah tersebut dinamakan juga harga keseimbangan jangka
panjang. Disamping harga keseimbangan tersebut Smith mempunyai pula
harga pasar atau keseimbangan jangka pendek. Jika harga berang-berang
meningkat, misalnya, maka dengan sendirinya dalam kaitan ini, harga
menjangan turun. Akibatnya, para pemburu menjangan kurang bergairah, dan
motivasi unntuk berburu berang-berang lebih tinggi. Tetapi ada dua cara
untuk mendapatkan menjangan. Pertama, secara langsung dengan memburu
menjangan; Kedua, dengan cara tidak langsung, memburu dan menangkap
berang-berang, kemudian menukarkannya dengan menjangan di pasar. Dalam
hal ini dengan jumlah berang-berang yang sedikit dapat memperoleh seekor
menjangan. Katakanlah, bahwa seekor berang-berang dapat ditukar dengan 4
ekor menjangan. Rangsangan harga ini akan meningkatkan penawaran
berang-berang di pasar, dan dapat berakibat harga berang-berang menurun,
sedangkan penawaran menjangan menurun dan harganya pun dapat meningkat.
Jadi, kalau semula perbandingannya 1:2 kemudian menjadi 1:4, harga
menjadi tidak seimbang, tetapi kemudian mekanisme pasar mendorong harga
menjangan kembali naik, maka tingkat harga cenderung kembali ke tingkat
keseimbangan semula. Dari uraian itu teramati, dengan andai-andaian
semual, proses perubahan harga pasar ke harga alamiah.
Andaian yang lain perlu dilengkapi adalah: pertama, pemburu benar-benar rasional dalam perhitungan yang didorong oleh
self-interest. Kedua pasar dalam struktur persaingan sempurna. Pemburu sebagai pengusaha sebagai
price taker tidak
seorangpun dari mereka yang dapat mempengaruhi tingkat harga. Ketiga,
bahwa berapapun berang-berang dan menjangan dibutuhkan ada tersedia
dengan ongkos rata-rata tidak berubah (constant-cost). Model mekanisme
harga Smith ini sering disebut model statis komparatif.
Selanjutnya, tingkat harga relatif barang berdasarkan teori jumlah tenaga kerja
(labor command theory) ditentukan
oleh jumlah tenaga kerja. Dalam hal ini dapat dijabarkan dalam jumlah
jam kerja. Jadi menurut contoh tadi, waktu yang diperlukan untuk
menangkap berang-berang dua kali lebih lama daripada waktu yang
diperlukan untuk menangkap seekor menjangan. Kedua teori ini mempunyai
persamaan, tetapi lebih relevan teori ongkos tenaga kerja dalam bentuk
ekonomi yang relatif lebih modern. Hanya saja dalam tahap ekonomi yang
lebih modern telah terjadi akumulasi modal, sedangkan lahan tidak lagi
sebagai barang bebas. Dalam hal ini mulai diperhitungkan laba untuk
pemilik modal dan sewa untuk tuan lahan. Dalam hal ini mulai terlihat
variabel baru, yakni intensitas modal dalam proses produksi. Dengan
demikian, rasio tenaga kerja dengan modal (T/M) berlainan untuk setiap
industri. Semakin intensif modal suatu industri cenderung laba juga
relatif semakin tinggi. Untuk lahan tingkat kesuburannya berbeda-beda.
Dalam hal ini muncul pembahasab baru, yakni distribusi pendapatan secara
fungsional.
Penjelasan harga relatif barang melalui teori ongkos produksi adalah
sebagai usaha mengatasi kesulitan yang ditemui pada dua teori yang telah
dijelaskan tadi. Ada kesulitan yang timbul dengan menggunakan teori
nilai tenaga kerja
(labor theory of value) dalam tahap ekonomi
yang telah maju. Dalam teori ongkos produksi harga relatif ditentukan
oleh semua pembayaran yang dikeluarkan untuk semua faktor produksi,
seperti tenaga kerja, modal, bahan baku, lahan, dan lain-lain. Dalam
pengertian Smith, laba termasuk tingkat bunga. Jadi kalau kita kembali
pada contoh perburuan kedua jenis binatang tadi, maka ongkos total untuk
menangkap berang-berang (OT
b) dan ongkos total untuk menangkap menjangan (OT
m) menjadi patokan harga relatif, yakni = OT
b : OT
m.
Ongkos total boleh diganti dengan ongkos rata-rata untuk masing-masing
barang. Dalam hal ini tingkat harga alamiah sama dengan ongkos produksi.
4) Teori Modal dan Distribusi
Pada uraian tadi telah disampaikan bahwa pada ekonomi yang lebih
modern, telah terjadi akumulasi modal dan lahan dimiliki tuan lahan,
sedangkan pemilik modal mendapat laba. Dengan demikian terjadi
pergeseran arti teori nilai yang semula dikemukakan Smith, yang dianggap
berlaku pada masyarakat dengan ekonomi yang primitif. Dengan demikian,
nilai nyata suatu barang sama dengan ongkos produksi. Jadi sumber nilai
bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga lahan dan pemilik modal.
Timbul pertanyaan lain: dari mana nilai surplus itu berasal? Smith
menolah pendapat yang menyatakan bahwa surplus berasal dari barang yang
dijual dengan tingkat harga di atas nilainya. Nilai itu katanya
mengandung dua bagian yakni, kepada tenaga kerja di satu pihak dan
pemilik modal (termasuk lahan). Di pihak lain tampaknya pengertian ini
bergandengan dengan paham Fisiokrat, yang dsebut dengan produit net.
Tetapi Fisiokrat berpendapat bahwa terjadi nilai tambah (
value added)
sebagai hasil tenaga kerja, bukan hadiah dari alam. Dengan demikian
sulit mengatakan bahwa sumber nilai satu-satunya adalah tenaga kerja.
Hal ini akan berangkai dengan pandangan Ricardo dan Marx, dalam konsep
nilai lebih. Namun, penjelasan Smith sebagian menyangkut teori
distribusi yakni hasil dari setiap golongan masyarakat. Pertama,
kelompok kerja subsisten, dan kedua, hasil dari pemilik lahan, dan
pemilik modal. Inilah yang membuat teori ongkos produksi lebih relevan
dari teori ongkos tenaga kerja.
Dengan demikian, laba merupakan bagian dari nilai barang yang
dihasilkan merupakan milik kapitalis. Hubungan upah dan laba berlawanan.
Peningkatan persediaan modal karena persaiangan berakibat tingkat laba
menurun sedangkan permintaan tegnaga kerja meningkat. Keadaan terakhir
ini akan meningkatkan pula tingkat upah. Tingkat laba menurut Smith
adalah sekitar jumlah modal yang hilang dalam proses produksi ditambah
jasa pemilik modal.
Tingkat laba memang berfluktuasi tetapi dengan kemajuan masyarakat,
tingkat laba cenderung turun. Akumulasi modal meningkatkan persaiangan
dan negeri semakin banyak penduduknya sedangkan lahan yang kuyrang subur
akan digunakan semakin meluas. Berkenaan dengan hal yang terfakhir ini,
Smith mengemukakan teori tentang
rente sebagaimana juga laba
dan upah bagian dari nilai barang. Tetapi efeknya terhadap harga barang
tidak seperti efek laba dan tingkat upah. Tinggi rendahnya laba dan upah
menyebabkan tinggi rendahnya tingkat barang. Smith berpendapat bahwa
rente tidak termasuk penentu tingkat harga.
Rente bukanlah sebab tetapi akibat, maka jika tingkat harga barang meningkat maka
rente ikut
meningkat. Jika harga hasil pertanian hanya cukup untuk menutupi
ongkos-ongkos kapitalis, maka lahan tidak terkena beban sewa, tetapi
jika tingkat harga meningkat, maka tuan lahan menjadi monopolis.
Sebenarnya, dari pandangan ini terlihat terjadi ketidakazasan teori
rente. Dari sini Ricardo memulainya.
Apapun yang telah menjadi kelemahan teori yang dikemukakan Smith,
telah mendatangkan sumbangan besar terhadap teori ekonomi waktu itu.
Semangat itu, dengan jelas terlihat pada teori nilai yang dikaitkan
dengan teori distribusi. Kaitan antara variabel modal, tenaga kerja,
tingkat bunga, upah dan laba menjadi terintegrasi. Laba, sewa dan upah
adalah tiga dan dan pertumbuhan penduduk akan diikuti peningkatan
kekayaan masyarakat. Tetapi semakin tinggi pula nilai barang yang
dihasilkan ke tangan tuan lahan. Di lain pihak, peningkatan penduduk
meningkatkan permintaan dan tingkat harga, meningkat pula hasil-hasil
pertanian dengan demikian makin bertambah modal yang digunakan di sektor
pertanian. Dengan terjadinya perbaikan teknologi pertanian, tidak
banyak lagi tenaga kerja digunakan, sebagian tenaga kerja digantikan
modal. Sebagian hasil kembali kepada tuan lahan.
Jika dikaitkan dengan pembagian kerja yang telah dibicarakan telebih
dahulu, maka pembagian kerja dan spesialisasi membutuhkan modal.
Penduduk bertambah meningkatkan permintaan. Kaitan ini merupakan teori
pertumbuhan ekonomi klasik. Semakin luasnya pasar, maka pembagian kerja
pun semakin berkembangan. Peningkatan produktivitas pun diperlukan.
Tetapi Smith pun membedakan tenaga kerja yang produktif dan tenaga kerja
yang tidak produktif. Tenaga kerja produktif adalah yang menciptakan
nilai dan surplus untuk pengusaha. Bagi Smith, tenaga kerja sektor jasa
termasuk tenaga kerja tidak produktif.
Kekuatan-kekuatan pertumbuhan ekonomi dirangkaikan menjadi teori
pertumbuhan. Kekuatan-kekuatan itu adalah jumlah penduduk yang mendorong
permintaan; peningkatan permintaan mendorong perluasan pasar yang
didukung efisiensi. Efisiensi menjadi operasional dengan adanya
spesialisasi dan pembagian kerja. Namun demikian pertumbuhan memiliki
kendala. Kemakmuran yang makin meningkat makin mendorong pertumbuhan
penduduk. Ini berarti penawaran tenaga kerja meningkat, oleh karena itu,
tingkat upah turun. Kenapa turun? Smith mempunyai teori dana upah. Dana
ini disediakan pengusaha dalam jumlah tetap. Tingkat upah adalah sama
dengan jumlah dana upah dibagi jumlah tenaga kerja. Turunnya tingkat
upah tenaga kerja mendatangkan kesulitan, para pekerja dengan tingkat
upah rendah untuk membiayai kebutuhan keluarga yang relatif besar kurang
terpelihara, sakit, dan banyak kematian. Dengan begitu terjadi
penyesuaian jangka panjang dan alamiah. Semakin itu, tingkat laba turun,
akumulasi turun, sewa tanah naik. Dalam situasi demikian sampailah
suatu negara dalam
stationari state.
Itulah teori-teori utama yang dikemukakan Smith lebih dari 200 tahun
yang lalu. Para penafsir kadang-kadang sulit membahas teori tersebut
karena ada pendapat Smith yang kurang dan tidak taat azas. Namun tidak
mengurangi kebesarannya dalam menyusun teori-teori secara terintegrasi
yang lebih maju dar sebelumnya.
- b. Thomas Robert Malthus (1766-1834)
Thomas Robert Malthus adalah seorang tokoh yang paling kontroversial
dalam sejarah ilmu ekonomi. Ia terkenal karena doktrin populasinya yang
kini dihubungkan dengan nama Malthus. Berlawanan dengan pandangan abad
ke-XVIII yang menyatakan bahwa ada kemungkinan meningkatkan standar
hidup, Malthus justru berpendapat bahwa perkembangan semacam itu
menyebabkan populasi bertambah dan menurunkan keuntungan. Ia juga
mengatakan ilmu ekonomi seharusnya ilmu yang empiris ketimbang ilmu
deduktif. Ia juga menentang perdagangan bebas dan bantuan pemerintah
terhadap pihak miskin.
Malthus lahir tahun 1776 di kota Wotton, Surrey. Pada usia 18 tahun
ia masuk ke Jesus College di Cambridge belajar matematika dan filsafat.
Sumbangan yang sangat berarti terhadap pemikiran ekonomi klasik
setelah Adam Smith, datang dari David Ricardo. Namun pemikiran yang
demikian dikemukakan oleh Thomas Robert Malthus dalam bukunya
An Essay on The Principle Of Population As It Affects The Future Improvement Of Society tidak
dapat dilangkahi. Ricardo memperdalam kajian terhadap teori distribusi
fungsional, memperbaiki teori nilai yang telah diutarakan Smith
sebelumnya dan pemikirannya tentang perdagangan Internasional. Buku
Ricardo yang terkenal
Principle of Political Economi and Taxation terbit 19 tahun setelah buku Malthus.
James Stuart Mill hidup dan berkarya dalam masa transisi, di satu
pihak dia mempertahankan persaingan sempurna dan kemerdekaan individu
tetapi di pihak lain Mill menghadapi berbagai kritik terhadap pemikiran
ekonomi klasik. Mill terpengaruh oleh pemikiran sosialis, maka uraian
tentang Mill digabungkan dengan pemikiran sosialis. Pada uraian yang
berikut akan terlihat variasi pemikiran tokoh ekonomi klasik yang juga
disebut Pemikir Ekonomi Ortodoks.
- 1. Malthus yang Pesimis
Pemikiran-pemikiran Smith seperti telah diuraikan sebelumnya penuh
optimisme. Penduduk bertambah, permintaan meningkat. Berarti pasar di
dalam dan luar negeri meningkat serta pembagian kerja dan spesialisasi
berkembang. Semua ini bermuara dalam kekayaan bangsa-bangsa yang
meningkat. Dalam jangka panjang semua ini akan sampai pada
stationary state.
Dengan terbitnya buku Malthus tahun 1798 pemikiran yang optimis
mengalami goncangan dimulai dengan debat Malthus dengan orang tuanya
sendiri tentang pendapat seorang ahli politik Inggris dan penulis
Perancis William Godwin dan Marquis de Condorcet yang berpaham utopia
yang menyatakan sifat manusia bukan karena diwariskan tapi ditentukan
lingkungan dimana mereka hidup. Pernyataan ini didasarkan pada berbagai
kesengsaraan dan kemiskinan manusia yang ada di lingkungan kehidupannya.
Yang bertanggung jawab atas keadaan ini adalah pemerintah. Untuk
mengubah keadaan ini diperlukan pembaruan kelembagaan. Godwin dituduh
menganut falsafah anarki. Daniel Malthus, ayah Thomas Robert Malthus
menyetujui pendapat itu tetapi Malthus muda menolaknya. Ayah Robert
adalah seorang Liberal sahabat David Hume dan pernah berkenalan dengan
pemikiran Perancis Rousseau.
Malthus muda membantah pendapat itu, setelah membaca teori penduduk
yang ditemukannya pada beberapa tulisan sebelumnya, termasuk
Wealth of Nations hukum hasil lebih yang berkurang (
the law of diminishing returns)
yang pernah dikemukakan oleh Turgot. Dengan menggabungkan
pemikiran-pemikiran ini, Malthus membantah pandangan Godwin dan
Condorcet. Dasar pemikiran Malthus muda sederhana, dengan andaian bahwa
nafsu seks manusia dan kebutuhan makanan mempunyai hubungan. Jumlah
penduduk meningkat tidak seimbang dengan kenaikan persediaan kebutuhan
pokok hidup. Bilamana kemampuan lahan untuk menghasilkan kebutuhan
manusia menurun, maka peningkatan bahan pangan tidak dapat mengimbangi
jumlah pertambahan penduduk. Bahkan secara khusus tesisnya dinyatakan
bahwa penduduk cenderung meningkat secara deret ukur (1, 2, 4, 8, 16,…),
sedangkan bahan kebutuhan pokok meningkat menurut deret tambah
(1,2,3,4,…).
Sebenarnya, tesis dengan menggunakan deret ukur dan deret hitung itu
digunakan sebagai ilustrasi, tetapi justru inilah yang mendapat kritik
berlebihan. Malthus engan pernyataan itu dikelompokkan menjadi orang
yang pesimis. Dengan kritik-krtik yang dilancarkan terhadap tesis
Malthus yang deduiktif itu. Mendorong Malthus umtuk melengkapi
bukti-bukti secara induktif. Pada tahun 1803, terbitlah edisi kedua.
Pada penerbitan ini, terlihat bahwa buku itu tidak lagi semata-mata
untuk membantah pendapat Godwin dan Condercet tetapi telah disusun
sedemikian rupa sebagai tulisan ilmiah. Dengan demikian, Malthuslah yang
pertama menyusun teori pertumbuhan penduduk. Memang, diakui bahwa bukan
Malthus yang pertama mempunyai pandangan tentang masalah-masalah
demografis, tetapi kelebihan Malthus adalah menyusun teorinya yang
terintegrasi dengan pemikiran ajaran ekonomi klasik.
Ramalan Malthus yang menggambarkan keadaan yang pesimis itu di Eropa
Barat, ternyata tidak benar. Apa lagi tidak ada bukti yang menyokong
tesis tentang jumlah penduduk dan jumlah bahan pangan yang masing-masing
bertumbuh menurut deret ukur dan deret tambah. Kenyataan dalam revolusi
industri yang disokong oleh kemajuan teknologi luput dari pembahasan
Malthus. Kenyataan memang menunjukkan menjelang berakhirnya abad ke 18
di Inggris terjadi ledakan penduduk tetapi jika dilihat dari kurun waktu
yang lebih panjang tingkat pertumbuhan penduduk di negeri itu (sejak
1680) ternyata rendah. Terjadinya ledakan penduduk di Inggris waktu itu
karena menurunnya tingkat kematian sedangkan tingkat kelahiran semakin
meningkat. Kejadian itu berkaitan dengan perbaikan sanitasi, gizi, dan
perumahan penduduk.
Pemikiran Malthus yang kontroversial waktu itu dapat digambarkan
sebagai berikut. Pertama, kita perlu melihat latar belakang tentang
alasan Malthus berpendapat demikian sehingga dia mencoba dengan segala
macam upaya membantah pendapat Godwin dan Condorcet tentang kesempurnaan
manusia. Manusia pada kelahirannya adalah baik, dan lingkunganlah yang
menyebabkan manusia itu jahat, jadi miskin dan papa. Malthus melihat
pada waktu itu: (1) menjelang tahun 1790, Inggris dalam keadaan
swasembada pangan tetapi pada tahun itu Inggris harus mengimpor bahan
pangan; (2) terjadi proses pemiskinan penduduk yang berpendapatan rendah
dengan berlangsungnya revolusi industri Inggris semakin menuju
masyarakat kota, diman produksi yang dibuat dalam rumah tangga beralih
ke pabrik-pabrik. Dalam proses yang demikian terjadi peningkatan jumlah
penduduk yang miskin di kota-kota.
Kedua, dalam bukunya yang terbit pada edisi pertama, dia mengemukakan
dua dasar utama sebagai andaian, pertama, untuk kehadiran manusia
diperlukan bahan pangan; kedua, nafsu sex antar kelamin merupakan
kebutuhan yang tidaka akan berubah. Dengan andaian ini, maka
disimpulkannya peningkatan penduduk lebih cepat daripada pertumbuhan
bahan pangan, peningkata variabel pertama menurur deret ukur, sedangkan
yang kedua menurut deret hitung, inilah yang menyebabkan kemiskinan dan
menjadi kikir. Malthus menentang pula undang-undang subsidi kepada orang
miski (poor laws). Dalam edisi pertama, tidak ada bukti statistik untuk
mendukung pendapat itu, bahkan belum dikemukakan hukum hasil lebih yang
berkurang, tetapi dinyatakan lahan yang terbatas. Karena itu, Malthus
mengemukakan cara mengatasinya yakni dengan melakukan pembatasan (
check).
Dalam buku yang pertama, Maltuhs mengajukan dua cara pembatasan, yakni
pengendalian positif dan negatif. Pengendalian positif (
positive check)
adalah perang, kelaparan dan penyakit, sedangkan pengendalian negatif
dengan menunda perkawinan. Tetapi dengan menunda perkawinan dapat
menimbulkan krjahtan sexual, seperti hubungan sex sebelum kawin dan
perkosaan. Untuk mengatasi ini tidak mungkin dengan meniadakan struktur
kelembagaan yang ada, karena kejahatan dan kemiskinan dalam masyarakat
disebabkan oleh kebutuhan pangan dan sex yang kuat.
Ketiga, pendapat Malthus yang menjadi kontroversi dan mendapat kritik
keras dari penentangnya mendorong Malthus menyempurnakan bukunya yang
kemudian terbit untuk kedua kalinya pada tahun 1803. Dalam buku ini,
baik tujuan dan metodologi, maupun kesimpulannya mengalami perubahan.
Seperti telah diutarakan sebelumnya metodologi yang digunakan Malthus
semata-mata deduktif telah dilengkapi dengan metode induktif pada edisi
kedua. Misalnya, dua cara pembatasan pertumbuhan penduduk telah menjadi
tiga cara, yakni dengan melakukan kendali moral (moral restraint).
Maksud kendali moral adalah menunda perkawinan tanpa melakukan hubuangan
sex sebelumnya. Buku Malthus terbit sampai dengan tujuh edisi dengan
tidak banyak lagi mengalami perubahan. Isi edisi inilah yang mantap
sampai sekarang.
Keempat, beberapa kritik yang dikemukakan terhadap pemuikiran Malthus
adalah kelemahan yang dikemukakan dalam tulisannya. Antara lain Malthus
tidak membedakan naluri, kebutuhan sex dengan keinginan manusia
mempunyai keturunan, dan cara pembatasan yang dikenal sekarang, yakni
melalui kontrasepsi. Selanjutnya, kemampuan kemajuan teknologi dalam
peningkatan bahan pangan yang berasal dari sektor pertanian. Namun hal
terakhir ini tidak adil bila menyalahkan Malthus. Para pemikir ekonomi
pada waktu itu mengabaikan hal pengaruh teknologi terhadap kemajuan
ekonomi.
Anehnya, dan ini dapat dilihat dewasa ini tesis Malthus yang sangat
relevan bukan di dunia Barat tetapi di negeri dunia ketiga, seperti
Asia, Afrika, dan amerika Latin. Masalah kependudukan telah dikaitkan
pula dengan masalah lingkungan. Dengan demikian, kembali para ahli
ekonomi mengkaji pemikiran Malthus dan mencoba untuk melakukan revisi,
di negeri-negeri maju, memang bukanlah masalah pertumbuhan penduduk yang
utama, tetapi kepadatan penduduk dan industrialisasi telah memperburuk
lingkungan kehidupan manusia.
Pengembangan dasar teori kependudukan dari Malthus tidak hanya dalam
pemikiran ekonomi selanjutnya tetapi juga digunakan oleh Charles Darwin
untuk menjelaskan teori evolusinya. Darwin berutang budi kepada Malthus.
Hal ini di luar perkiraan Malthus bahwa teorinya digunakan untuk
menjelaskan teori evolusi. Teori kependudukan yang dikemukakan Malthus
sangat besar sumbangannya dalam pembahasan pembangunam ekonomi. Teori
ini bergabung dengan teori dana upah dari Smith dan teori teori hasil
lebih yang berkurang, merupakan model pembangunan ekonomi klasik. Model
ini banyak mendapat kritik yang selanjutnya dibicarakan lagi dalam
pemikiran David Ricardo. Begitu juga, sumbangan Malthus dalam perbedaan
rente
lahan lebih tajam dikembangkan oleh Ricardo. Sebenarnya, sumbangan yang
besar dari Malthus terhadap teori ekonomi adalah terjadinya
keseimbangan penawaran dengan permintaan yang terkenal dengan
theory of geluts, yakni penawaran tergantung pada permintaan.
SUMBER
http://nanxsu.blog.com/2012/03/27/teori-ekonomi-klasik/
http://blogsiffahartas.blogspot.com/2011/05/teori-ekonomi-klasik.html